Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta, melainkan zuhud terhadap dunia adalah apa yang ada pada kedua tanganmu (kekayaan yang kamu miliki) tidak lebih kamu cintai dibanding apa yang ada di sisi Allah.”(HR. Tirmidzi)         

Dalam suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang artinya, Dari Sahl bin Sa’ad r.a, ia berkata: “Seorang laki-laki menghadap Nabi Muhammad SAW dan berkata, Ya Rasulullah! Tunjukanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku mengerjakannya, Allah akan mencintaiku dan orang-orang pun mengasihi diriku. Beliau bersabda: Zuhudlah kamu terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya orang-orang akan mencintaimu.”(HR. Ibnu Majah)

Zuhud termasuk jenis dari akhlakul karimah.

Makna secara istilah:
Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tanpa musibah adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.

Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan meredupnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia di hati seorang hamba. Ia taruh dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sembilan istri. Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.

Zuhud yang Bermanfaat dan Sesuai Dengan Syariat:

Zuhud yang disyariatkan dan bermanfaat bagi orang yang menjalaninya adalah zuhud yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat demi menggapai kehidupan akhirat. Adapun sesuatu yang memberi manfaat bagi kehidupan akhirat dan membantu untuk menggapainya, maka termasuk salah satu jenis ibadah dan ketaatan. Yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah beribadah kepada Allah, menjalankan ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya.

“Carilah apa yang bermanfaat bagi dirimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim hadits no. 4816)

Zuhud yang Bid’ah dan Menyelisihi Syari’at:

Zuhud yang menyelisihi Sunnah tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Karena ia menganiaya hati dan membutakannya, membuat agama menjadi buruk dan hilang nilai-nilai kebaikannya, menjauhkan manusia dari agama Allah, menghancurkan peradaban, dan memberi kesempatan bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka; merendahkan kemuliaan seseorang serta menjadikan seorang hamba menyembah kepada selain Allah.

Sumber:
http://al-islam.mywapblog.com/zuhud.xhtml
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/zuhud.html
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/3-makna-zuhud.html

Iklan