Oleh Y. Dahabi al-Fam
Lahirnya Kanisah Orthodox

Gereja Orthodox Syria (Kanisah Orthodox Syria) dimulai dari Yerusalem yang anggotanya adalah terdiri dari para Rasul Isha al-Masih, para Penginjil dan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Natsuraya (Kristen). Ketika Kanisah semakin banyak mengalami penganiayaan, terutama pada saat penganiayaan Stephanus, Kanisah ini kemudian berpindah dan menyebar ke kota Antiokhia, dan kemudian ke Urthoy (Eddesa) sehingga anggota Kanisah inipun bertambah dengan orang-orang Aramia (Syria) yang sudah bertobat dan bangsa-bangsa non Yahudi yang lain. Kanisah ini didirikan oleh Sayidina (Jungjungan kita) Isha al-Masih di atas dasar pengakuan para Rasul dan di atas dasar para Rasul dan para Nabi (Matius 16: 16 – 19, Efesus 2: 19 – 22, Kisah Para Rasul 11: 26) yang dihadirkan pertama kali di Antiokhia oleh Rasul Kepha (Petrus), pemimpin para rasul, dan menjadi Patriarkh pertama dari Tahta Suci Antiokhia. Kanisah inilah yang menjadi nenek moyang segala kanisah yang multi etnis, karena dalam Kanisah inilah pertama kali memiliki anggota yang terdiri dari berbagai etnis suku bangsa.

Kanisah Yang Tidak Dikuasai Alam Maut

Kanisah Orthodox Syria sebagai Kanisah mula-mula atau Kanisah Perjanjian Baru, disebut juga sebagai Kanisah Rasuliah (Apostolic Church) karena didirikan oleh Isha al-Masih sendiri di atas dasar atau fondasi, pengakuan para Rasul bahwa Isha al-Masih adalah Mesias Anak Allah yang Hidup, sebagai batu penjuru (Matius 16: 16, 17, band. Efesus 2) dan fondasi rasul Kepha (Petrus), dimana sebelumnya terlebih dahulu Sayidina al-Masih memberi nama baru bagi Simon bin Yunus yakni Kepha (bahasa Aram; bahasa sehari-hari yang dipergunakan Isha al-Masih, Bunda Maryam, IbuNya, para Rasul dan um’mah Natsuraya mula-mula), Petra (bahasa Yunani) dan Petrus (bahasa Indonesia), yang berarti Batu Karang (Matius 16: 16 – 19). Kepha atau Petra atau Petrus yang berarti BATU KARANG sesungguhnya adalah nama lain dari Isha al-Masih sendiri. Bukankah Isha al-Masih sendiri sering dikatakan sebagai BATU KARANG? Ya, tapi al-Masih telah berbagi nama dengan Simon bin Yunus. Al-Masih telah mengikat diriNya dengan Simon bin Yunus, ketika Dia memberikan nama itu kepada Simon bin Yunus, hingga mulai saat itu Simon memiliki nama baru dari sang Mesias, yang bukan lagi Simon bin Yunus, melainkan Simon Petrus (Simon Kepha). Jadi Gereja (Kanisah) menurut al-Kitab bukanlah Kanisah atau Gereja yang hanya didirikan di atas dasar pengakuan para Rasul bahwa Isha al-Masih adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup sebagaimana umumnya gereja-gereja yang ada di dunia ini khususnya di Indonesia, melainkan Kanisah menurut al-Kitab adalah Gereja (Kanisah) yang hanya didirikan Isha al-Masih di atas dasar pengakuan para Rasul bahwa Isha al-Masih adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup, dan di atas dasar Kepha/ Petra/Petrus/Batu Karang (Matius 16: 18). Inilah yang dimaksud rasul Paulus ketika beliau menghubungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru yang kontinu atau yang tak putus, tetapi justru saling kait mengkait bagaikan mata rantai yang tak putus, yakni Kanisah yang hanya didirikan Isha al-Masih di atas dasar pengakuan para Rasul bahwa Isha al-Masih adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup sebagai BATU PENJURU (Efesus 2: 20) dan di atas dasar Kepha/Petra/Petrus/Batu Karang (mewaki para Rasul – Perjanjian Baru – Matius 16: 18) sebagai penggenapan dari Perjanjian Lama (para Nabi – Efesus 2: 19 – 2O). Sebab itulah Kanisah Orthodox Syria disebut juga sebagai Kanisah al-Kitabiah yang sepenuhnya berdasarkan firman Allah yang diterima para Rasul dan para Nabi, dan sepenuhnya disampaikan pada KanisahNya, dan Kanisah inilah yang dikatakan Isha al-Masih sendiri sebagai Kanisah yang tidak dikuasai alam maut (Matius 16: 18).

Sebab itu dalam seluruh Perjanjian Baru, khususnya yang dalam pertumbuhan gereja dalam Kisah Para Rasul, kita tidak pernah baca dan temui ada gereja Paulus, gereja Matius, gereja Yohanes, gereja Petrus, gereja Yakobus, dan lain sebagainya -, seperti sekarang ini ada gereja Lutheran tahun 1524, Presbiterian (John Knox, tahun 1560), Babtis (John Smith, tahun 1600), ada Methodis (Jhon Weslay, tahun 1739), Sabbath (William Miller, tahun 1844), Bala Keselamatan (William Booth, tahun 1865), dan juga Saksi Jahowa (CT Russell, tahun 1870) Reform (Calvin), Pantekosta (G. Spirling, tahun 1884 ) dan lain-lainnya -, karena memang Kanisah tidak pernah didirikan oleh oknum-oknum tertentu, seperti Rasul misalnya, kecuali hanya oleh Isha al-Masih sendiri. Para Rasul hanya menghadirkan Kanisah yang telah didirikan oleh Isha al-Masih tersebut, dan menahbiskan serta menetapkan para pengganti mereka, menahbiskan dan menetapkan para Episcopos (bahasa Arab al-Uskup/Penilik, Presbuteros/ Presbiter/Penatua, dan para Diaken; sebagai Gembala (Pemimpin) dalam GerejaNya, untuk menata dan mengatur GerejaNya, untuk menetapkan doktrin GerejaNya dan untuk melaksanakan Sakramen dalam GerejaNya, serta mengatur dan menetapkan segala sesuatu yang menyangkut GerejaNya. Itulah yang dipesankan, diwasiatkan dan diwariskan Isha al-Masih kepada para Rasul dan pengganti mereka sampai saat ini (Matius 16: 18 – 19: Kisah Para Rasul 14: 23; Kisah Para Rasul 2O: 17, 28; band. Matius 28: 18 – 20; Yohanes 14: 15; II Tesalonika 2: 15; Kisah Para Rasul 15: 23 – 29; I Korintus 11: 23 – 30), dengan jaminan Roh Kudus (Matius 16: 19; Yohanes 16: 12 – 15).

Simaklah apa yang dinyatakan oleh Mar Ignatius (murid sekaligus pengganti rasul Petrus), berdasarkan wibawa rasuli, Rasul Petrus, meneruskan prinsip “suksesi apostolik” dan menegaskan:
Ikutlah uskupmu (episkop, penilik jema’ah), sebagaimana al-Masih mengikuti sang Bapa, dan ikutlah para Imam (presbiter) seperti mengikuti rasul-rasul, dan hormatilah diaken-diaken seperti perintah-perintah Allah . . . Di mana pun uskup berada, biarlah juga um’mah berada di sana, sama seperti dimana Isha berada, di sana kanisah semesta berada (ekei he katholike ekklesia).

Begitu juga Mar Irenaeus (muridnya Mar Policarpus, muridnya rasul Yohanes), menegaskan kesinambungan (sanad) ajaran para Rasul al-Masih dan tentang para pengganti para Rasul (Suksesi Rasuli) sebagai berikut:

Karena itu, setiap orang yang ingin mendengar kebenaran, jelas dapat merenungkan di setiap kanisahnya tentang ajaran-ajaran yang diteruskan dari rasul-rasul itu, yang dinyatakan di seluruh dunia. Kami dapat memberikan daftar dari mereka yang diangkat sebagai uskup oleh rasul-rasul, begitu pula yang menggantikannya hingga zaman kita. (dalam banyak kanisah sekarang tentu hal ini tidak akan mungkin ditemui, karena masing-masing pemimpin kanisah tersebut telah mengangkat diri mereka sendiri menjadi pemimpin atau gembala-gembala).

Sebab itulah Mar Tertulian (wafat 22O M), dengan berani dan tegas menantang para bid’ah dalam bukunya De Praescriptione Haereticoum (37):

Pantaslah kalau kita bertanya, “Kalian itu siapa? Kapan dan dari mana kalian datang? Karena kalian bukan dari padaku, lalu apa yang kalian buat dengan milikku? Sungguh, Marcion, dari manakah hakmu untuk menebang hutanku? Atas izin siapakah, Valentinus, kamu membelokkan mata airku? Dengan kuasa siapakah, hai Appeles, kamu memindahkan batas-batas tanahku? Inilah milikku, akulah pewaris Rasul-rasul.

Sayidina Isha al-Masih jelas pasti tahu bahwa saatnya akan datang para bid’ah yang akan mencoba mengambil alih Kanisah dan ajaranNya setelah mik’rajNya (naikNya) ke Surga, sebab itulah Dia mewasiatkan, mewariskan KanisahNya kepada para Rasul dan memberi wewenang kepada mereka untuk meneruskan KanisahNya dan menjaga doktrinNya. Karena itu berdasarkan kuasa dan wibawa yang diberikan Isha al-Masih kepada para Rasul, maka sebelum rasul Petrus “intiqala ila am jaadis samawat” (kembali ke kemuliaan surgawi) atau juga sering disebut “kembali kepangkuan Bapa di surga”, rasul Petrus sendiri menunjuk dan menahbiskan Mar Awwad (St. Avodius) dan Mar Ignatius Sang Pencerah sebagai para pengganti beliau. Dan mereka kemudian menggantikan tugas Kerasulannya setelah rasul Petrus mati shahid di kota Roma.

Banyak hal, seperti hal-hal tersebut di atas membuat Orthodox Oriental menolak rekonstruksi theologi dan rekonstruksi devosi kristen dewasa ini, karena betapapun ilmiahnya penjelasan tersebut, jika tidak ada sanad atau mata rantainya terhadap salah satu Rasul, yang turun ke murid-murid Rasul dan murid-murid dari murid-murid Rasul, maka ajaran atau rekonstruksi theologi dan rekonstruksi devosi kristen dan ajaran-ajaran lainnya tersebut harus ditolak, sebab itu hanya merupakan ajaran pribadi sedangkan ajaran Kanisah adalah bersifat kolektif.

Kota Antiokhia pada masa-masa para Rasul sangatlah terkenal bukan saja karena Kanisah Antiokhia yang kemudian hari lebih dikenal Kanisah Orthodox Syria (non Calsedon/Oriental) menjadi pusat Kanisah Natsuraya (Gereja Kristen), tetapi juga menjadi Kanisah pertama dan terutama, tertua dan paling terkenal, dan juga menjadi dasar dari Kenatsurayaan serta di kota Antiokhialah saat itu para Rasul dan murid-murid Isha al-Masih yang lain disebut sebagai orang-orang Natsuraya (Kisah Para Rasul 11: 26).

Sebagai catatan penyebutan non Calsedon atau Oriental bagi Kanisah Orthodox Syria adalah membedakannya dari Kanisah Orthodox Antiokhia (Antiochian Orthodox Church) atau kadang-kadang mereka disebut Kanisah Orthodox Syria (Calsedon), dipopulerkan oleh oknum-oknum tertentu di Indonesia pada hal nama itu tidak pernah ada, kecuali dari sejak awalnya sampai sekarang mereka memakai nama Gereja Orthodox Antiochian. Kanisah inilah yang mengklaim diri sebagai Kanisah yang sah, bahkan satu-satunya yang sah di Antiokhia, pada hal, Kanisah ini adalah bikinan atau ciptaan Orthodox Yunani (Byzantium), setelah sebelumnya memfitnah Kanisah Orthodox Syria yang asli di Antiokhia atau non Calsedon atau Oriental (Kisah Para Rasul 11: 26) sebagai kanisah monophysit, pada hal Kanisah ini hanya menerima dan mempertahankan doktrinnya pada tiga Majma (Konsili) yang mereka (Orthodox Yunani) juga akui dan terima, yaitu Konsili Nicea tahun 325 Masehi, Konsili Konstantinopel tahun 381 Masehi dan Konsili Efesus tahun 431 Masehi. Setelah fitnah ini gagal, kemudian hari Kanisah Orthodox Syria yang asli atau non Calsedon atau Oriental, difitnah kembali dengan sebutan Kanisah Yaqubiyyah untuk menghilangkan nilai historis Kanisah ini sebagai Kanisah mula-mula atau sebagai Kanisah Apostolik/Rasuliah.

Antiochian Orthodox Church atau Kanisah Orthodox Antiokhia bikinan atau ciptaan Kanisah Orthodox Yunani ini oleh Kanisah Orthodox Syria disebut Malkoye atau Melkit yang berarti para pengikut Raja (baca: Kaisar), karena mereka telah meninggalkan iman Kanisah Orthodox Syria leluhur mereka dan mengikuti raja Byzantium yang notabene adalah Orthodox Yunani. Di kemudian hari kanisah ini pecah, yang satu tetap memakai nama Kanisah Orthodox Antiokhia, dan tetap satu komuni dengan Orthodox Yunani, dan yang satunya lagi Kanisah Melkit yang berkomuni dengan Kanisah Katholik Roma, yang di Indonesia dipopulerkan sebagai Katholik Timur. Kanisah Melkit pecahan dari Kanisah Orthodox Antiokhia inilah yang memfitnah Kanisah Oriental (salah satunya, Kanisah Orthodox Syria) sebagai bid’ah diberbagai media internet. Ini perlu dikemukan sebab ada teman diskusi di facebook menyangkal hal ini dengan berbagai alasan, walaupun ditunjukkan bahwa tuduhan bid’ah ini memang benar mereka tujukan pada Kanisah Oriental.

Kanisah Orthodox Syria yang asli atau non Calsedon atau Oriental ini sering kali difitnah, Patriarknya diusir, para Imamnya dikejar-kejar, dianiaya dan dibunuh oleh Orthodox Yunani dengan meminjam tangan Kaisar. Ini merupakan kebenaran sejarah yang seringkali ditutup-tutupi atau bahkan diputar-balik dari sejak dulu sampai sekarang baik melalui majalah-majalah, buku-buku, khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan internet dan media-media lainnya, baik oleh orang-orang Barat maupun orang-orang Indonesia. Tapi bagaimanapun pahitnya, dengan sangat menyesal, sejarah ini perlu diungkap untuk meluruskan fitnahan tersebut dan sekaligus menjadi pelajaran bagi kita bahwa bagaimanapun usaha manusia untuk menghancurkan kebenaran, tetaplah sia-sia, kebenaran adalah tetap kebenaran dan pada akhirnya kebenaran akan selalu menjadi pemenang, karena alam maut tidak menguasainya. Itulah janji Isha al-Masih yang digenapinya bagi KanisahNya, yaitu Kanisah Orthodx Syria non Calsedon atau Oriental selama hampir 2000 tahun yang sudah berlalu, bahkan sampai selama-lamanya.

Doktrin Kanisah Orthodox Syria

Untuk membuktikan tuduhan fitnah Orthodox Yunani tersebut, kita dapat menelusuri doktrin keimanan Kanisah Orthodox Syria yang sebenarnya diakui dan diterima juga oleh Orthodox Yunani. Kanisah ini percaya sepenuhnya akan Satu Pribadi (ganda) Tuhan Isha al-Masih , dan Satu Sifat ganda yang terdiri dari dua sifat: yaitu Ilahi dan Manusia, yang tidak bercampur, tak dapat dipisahkan dan tak berganti-ganti. Dengan kata lain, dua sifat, yaitu Ilahi dan Manusia, berada dalam Satu Sifat yang tanpa bercampur, tak terlebur dan tidak berubah-ubah, tidak berganti dan tidak rancu. Batasan ini berlaku bagi semua Sifat Keilahian dan KemanusiaanNya. Dengan demikian, KeilahianNya menyatu dengan KemanusiaanNya, sehingga ketika al-Masih disalibkan tidak pernah KeilahianNya meninggalkan TubuhNya. Sebab itu sungguh sangat salah dan sangat menyimpang dari iman Natsuraya yang universal apabila orang mengatakan, “al-Masih itu disalibkan tubuhNya saja.” Tetapi, sebaiknya dikatakan, “Kalimatullah atau Firman Allah yang telah menjadi Manusia itu adalah Tuhan Yang Maha Mulia yang telah disalibkan,” namun, kami mengatakan, “Ia telah menderita dan wafat dalam keadaanNya sebagai Manusia,” sebab KeilahianNya tidak pernah tersentuh penderitaan dan kematian. Sebagai konsekuensinya, Maria adalah “Ibu dari Dia (Kalimatullah yang telah menjadi Manusia) adalah Ilahi,” dan ungkapan “Engkau yang telah disalibkan gantikan kami” adalah benar sebagaimana diucapkan dan diyakini dalam Trisagion, yang dialami oleh sifat kedua dariNya, yaitu al-Masih.

Doktrin iman inilah yang dipegang teguh oleh Kanisah Orthodox Syria dan Kanisah Orthodox Koptik, yang menolak Konsili Calsedon dan dokumen Leo dari Roma, karena Kanisah-kanisah yang dikenal non Calsedon atau Oriental tersebut hanya mengakui dasar-dasar iman yang ditetapkan tiga konsili ekumenikal di Nicea tahun 325 M, Konstantinopel tahun 381 M dan Efesus 431 M, yang oleh Orthodox Yunani juga akui dan terima. Jadi apa dasarnya Orthodox Yunani memfitnah Orthodox Syria, pada hal mereka (Orthodox Yunani) juga mengakui dan menerima 3 (tiga) konsili tersebut, sama seperti Kanisah-kanisah non Calsedon atau Oriental akui dan terima? “Orthodox” berarti “Iman Yang Benar dan Seutuhnya” yang dikenal oleh umat Syria (Syrian), Koptik, Armenia dan Ethiopia. Kanisah-kanisah inilah yang disebut sebagai “Sister Churches” (Kanisah-Kanisah saudari mereka). Mereka bersama-sama telah mengalami berbagai penderitaan dan penganiayaan-penganiayaan yang kejam yang ditujukan kepada mereka oleh Orthodox Yunani panganut Konsili Kalsedon tersebut, dengan meminjam tangan dan kuasa Kaisar Byzantium.

Di kemudian hari setelah konsili Efesus tahun 431, orang-orang Antiokhia, Syria berpendapat bahwa rumusan Mar Kyrilos tersebut agak kaku, hingga perlu diberi penjelasan yang lebih tegas, maka pada akhirnya pada tahun 433, Mar Kyrilos mengakui dan menerima dokumen Antiokhia, Syria, yang terkenal sebagai “Rumusan Penyatuan Kembali”, dan inilah sebenarnya yang dibacakan dan diterima oleh kelompok Calsedon pada konsili ke-4 di Kalsedon; yakni dua risalah Mar Kyrilos, yang salah satunya “Rumusan Penyatuan Kembali” (dokumen Kanisah Antiokhia, Syria atau Kanisah Orthodox Syria), Qanun al-Iman Nicea-Konstantinofel, dan risalah Paus Leo yang berjudul “Tomus.” Ini juga membuktikan fitnah Orthodox Yunani tersebut terhadap Kanisah Orthodox Syria sangatlah keji, sebab apa yang telah diputuskan dalam 3 konsili sebelumnya, yakni Nicea 325, Konstantinofel 381 dan Efesus 431, mereka terima juga, dan diputuskan dan dikukuhkan kembali dalam konsili mereka, yakni konsili Calsedon tahun 451.

Selanjutnya setelah “Henotikon” dari kaisar Zeno yang tegas menolak monophysit Eutyches (seorang rahib dari Kanisah Orthodox Yunani/Byzantium) tahun 482 yang mempersatukan seluruh Kanisah Timur (non Calsedon/Oriental), maka penolakan kembali ditegaskan pada ajaran Monophysit dan menjatuhkan hukuman ekskomunikasi kepada Eutyches pada putusan Patriarkh Kanisah Orthodox Syria, Mar Butrus II, Mar Severius al-Kubra, bahkan juga melalui theolog-theolog Orthodox Syria: Mar Ishaq al-Anthaki, Mar Philosenos al-Mabuj, Mar Buthros Kurgian, Mar Yaqub Sroug, Mar Sim’un Ashram dan yang lainnya.
Hal-hal tersebut diatas jelas dan tegas bahwa tidak pernah Kanisah Orthodox Syria menerima Monophysit, tetapi jelas dan tegas dari sejak dulu sampai sekarang menolak Monophysit, hingga Monophysit yang dialamatkan pada Kanisah Orthodox Syria adalah sangat menyakitkan. Mungkin yang perlu dipertanyakan adalah justru pada diri Kanisah Orthodox Yunani, sebab timbulnya Monophysit tersebut adalah dari rahib Orthodox Yunani sendiri.

Liturgi Bahasa Arami

Bahasa yang digunakan oleh Isha dan Natsuraya mula-mula adalah bahasa Arami (Syria). Orang Yahudi juga telah menulis beberapa bagian kitab suci dengan bahasa Aram, seperti dalam gulungan kitab Laut Mati. Gulungan kitab itu ditemukan pada tahun 1974 oleh Yang Mulia Mar Athanasius Yashu Samuel sebagai Uskup Kanisah Orthodox Syria di Yerusalem (sekarang sebagai Uskup untuk Amerika Serikat dan Canada). Para Rasul dan Kanisah mula-mula selalu menggunakan bahasa Aram, bahkan terutama dalam Ibadah, selalu memakai bahasa Aram.

Semua orang harus tahu bahwa Kanisah mula-mula yang ada di permukaan bumi ini pada mulanya adalah menggunakan Liturgi rasul Yakobus, Uskup pertama di Yerusalem, dan saudara Tuhan kita Isha al-Masih. Dan tentu semua orang tahu bahwa Kanisah di Yerusalem juga menggunakan Liturgi Rasul Yakobus sampai berakhirnya ketujuh belas uskup Syria yang pertama. Namun, ketika para duta dari Konstantinopel alias Orthodox Yunani mulai merebut kepemimpinan Kanisah Orthodox Syria di Antiokhia, mereka menggantikan Liturgi Rasul Yakobus dengan Liturgi Basilius dari Kaisarea, yang dikarang Basilius tahun 379 Masehi dan Liturgi John Chrysostom yang dikarang John Chrysostomos pada tahun 407 Masehi, dalam bahasa Yunani, dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Aram. Tetapi, Liturgi Rasul Yakobus sendiri tetap ada di Kanisah Antiokhia (Kanisah Orthodox Syria non Calsedon/Oriental). Itu sebabnya maka Liturgi Syria (Aram) disebut sebagai Liturgi Antiokhia. Dari Liturgi inilah maka dapat dilacak kembali asal-muasal semua liturgi Kanisah. Kanisah Orthodox Syria non Calsedon/Oriental sangat bangga bahwa Liturgi mereka menggunakan bahasa Syria (Aram), yaitu bahasa yang telah dikuduskan oleh lidah suci Tuhan kita Isha al-Masih, dan yang dihormati oleh lidah Maria, IbuNya dan oleh para rasulNya yang kudus. Dalam bahasa inilah Rasul Matius menuliskan Injil, dan Injil lainnya pada mulanya, sebagaimana dalam bahasa inilah Injil diwartakan pertama kali di Yudea, Syria dan daerah-daerah sekitarnya. Baru dikemudian hari setelah banyak yang memeluk Natsuraya dari berbagai suku bangsa, maka Injil dituliskan kemudian ke dalam bahasa Yunani, sebagai bahasa internasional. Ini lebih dimungkinkan dan masuk di akal daripada pendapat bahwa Injil pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani, sebab Sayidina Isha al-Masih berbahasa Aram sebagai bahasa sehari-hari dan juga dalam pelayanananNya, IbuNya, Sayidatina Maryam juga memakai bahasa Aram, para Rasul juga menggunakan bahasa Aram, dan liturgi yang digunakan um’mah Natsuraya di seluruh Kanisah yang ada di atas bumi ini juga menggunakan bahasa Aram dari sejak abad I sampai abad ke IV (kurang lebih selama 370 tahun). Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan hal-hal lainnya maka lebih dimungkinkan Injil pertama kali dituliskan dalam bahasa Aram dari pada bahasa Yunani, sebagaimana Injil Matius ditulis pertama kali dalam bahasa Aram sebagaimana diakui oleh semua para ahli.

Ketika Liturgi Basilius Agung dari Kaisarea dan Liturgi John Chrysostom yang aslinya adalah bahasa Yunani dipaksakan oleh Kanisah Orthodox Yunani pada Kanisah Orthodox Syria, dan Kanisah Orthodox Syria menolaknya, maka Kanisah Orthodox Syria dianiaya dengan luar biasa. Kemudian karena mereka berpikir bahwa adalah masalah bahasa, mereka menterjemahkan ke dua Liturgi tersebut ke dalam bahasa Aram, lalu membujuk Kanisah Orthodox Syria untuk menggunakannya, tetapi Kanisah Orthodox Syria tetap menolaknya? Dan konsekuensi penolakan ini Kanisah Orthodox Syria terus dianiaya dan terus-menerus difitnah dengan tuduhan macam-macam.

Mengakhiri masalah Liturgi ini, ada sebuah lelucon, ketika ditanya kenapa Liturgi Rasul Yakobus digantikan dengan Liturgi Basilius Agung dan John Chrysostom, di antara mereka mengatakan bahwa dalam Liturgi Rasul Yakobus ada sedikit tambahan yang bukan asli dari rasul Yakobus. Dengan kata lain Liturgi Rasul Yakobus tidak asli lagi. Aneh juga ya alasan ini. Jika seandainya Liturgi Rasul Yakobus ada tambahan yang bukan asli dari rasul Yakobus, bagaimana mereka menggunakan Liturgi yang keseluruhannya bukan asli dari rasul Yakobus, seperti Liturgi Basilius Agung yang dikarang oleh Basilius Agung pada tahun 379 Masehi dan Liturgi John Chrysostom yang dikarang oleh John Chrysostom pada tahun 407 Masehi?

Jika ada alasan yang dicari-cari untuk menjadi yang utama dalam hal Tahta Kepatriarkhan hanya karena pusat kerajaan telah pindah dari Roma Barat/Lama (Vatikan) ke Roma Timur/Baru (Byzantium), walaupun sebenarnya tidak ada sangkut pautnya, karena hanya bersifat politik semata-mata, padahal masalah Kanisah adalah masalah rohani, lalu mengapa hal seperti itu tidak diterapkan pada diri mereka, padahal menyangkut sama-sama masalah rohani? Maksudnya, bagaimanapun juga, rasul Yakobus hidup pada abad pertama, sebagai murid bahkan rasul yang dipilih oleh Sayidina Isha al-Masih sendiri, saksi mata tentang apa yang dikatakan dan diperbuat oleh Sayidina Isha al-Masih, dan saudara dari Isha al-Masih sendiri, sedangkan Basilius Agung hidup pada abad ke IV dan John Chrysostom hidup pada abad ke V dan mereka bukan saksi mata langsung, lalu alasan apa mereka meninggalkan dan menggantikan Liturgi Rasul Yakobus dengan Liturgi Basilius Agung dan Liturgi Jhon Chrysostom? Atau setidak-tidaknya apa alasan mereka untuk mengutamakan Liturgi Basilius Agung dan Liturgi Jhon Chrysostom dari pada Liturgi Rasul Yakobus? Sebenarnya mana lebih layak Liturgi Rasul Yakobus yang disusun rasul Yakobus, murid dan Rasul yang dipilih Sayidina Isha al-Masih sendiri dan saksi mata serta saudara Isha al-Masih sendiri, atau Liturgi Basilius Agung yang dikarang oleh Basilius Agung yang hidup pada abad ke IV dan Liturgi John Chrysostom yang dikarang oleh John Chrysostom yang hidup pada abad ke V dan mereka bukan saksi mata langsung? Pertanyaan ini sangat layak diajukan karena dua alasan dari beberapa alasan; pertama alasan keutamaan Kepatriarkhan, yaitu Kepatriarhkan Byzantium/ Konstantinopel (sekalipun hal ini juga tidak pada tempatnya dijadikan alasan), dan ke dua karena Kanisah Orthodox Syria non Calsedon/Oriental ini mempertahankan Liturgi Rasul Yakobus dalam bahasa Aram, dan tidak mau menggantikannya dengan Liturgi Basilius Agung dan Liturgi Jhon Chrystom, sehingga Kanisah Orthodox Syria non Calsedon/Oriental dianiaya terus menerus.

Baktinya Bagi Injil

Kanisah Orthodox Syria menjalankan peranan penting dalam bidang literatur al-Kitab. Para sarjana dari Kanisah Orthodox Syria ini mengakar dalam lautan misteri al-Kitab yang begitu luas dan tak terungkapkan. Sarjana-sarjana dari Kanisah Orthodox Syria inilah yang pertama kali menterjemahkan al-Kitab ke dalam bahasa Syria (Arami) yaitu bahasa mereka sendiri. Dan kemudian, mereka melakukan pengkajian-pengkajian yang mendalam yang memperkaya perpustakaan-perpustakaan di Timur dan Barat dengan berjilid-jilid buku pelajaran dan tafsir al-Kitab yang tidak terhitung jumlahnya sekalipun malapetaka dan nasib buruk menimpa tanah kelahiran mereka, sehingga menyebabkan banyak kerugian karena Perang Dunia I, dan karena pemusnahan ribuan buku manuskrip kitab-kitab suci yang tak ternilai harganya itu oleh para musuh mereka. Sesudah mereka mempelajari al-Kitab dalam bahasa Aram, maka mereka melakukan usaha-usaha tanpa lelah dengan menterjemahkan karya-karya tulis mereka itu ke dalam bahasa-bahasa lain. Sekitar tahun 404 Masehi, Malphan Daniel orang Syria serta Mesroph orang Armenia itu bekerja sama menterjemahkan al-Kitab ke dalam bahasa Armenia. Sarjana bahasa Aram yang berasal dari Arabia dari banu Thayy, Tanukh dan banu Aqula (al-Kuufa) menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab atas perintah Patriarkh Kanisah Orthodox Syria, Mar Yuhanna II, demi memenuhi permintaan Umair Ibnu Saad ibn Abi Waqqass Al-Anshari, raja di Jaziratul Arabia. Yuhanna bar Yawsef, seorang imam Syria dari kota Taphliss (selatan Rusia), menterjemahkan al-Kitab ke dalam bahasa Persia pada tahun 1221 Masehi. Pada dasawarsa pertama di abad ke-19, Raban Philipos orang Syria dari Malabar, India, telah menterjemahkan al-Kitab ke dalam bahasa Malayalam, bahasa yang dipakai di India Selatan. Pada abad lalu, abad ke-20, Chorepiscop Mattay Konat orang Syria dari Malabar, telah menterjemahkan seluruh Perjanjian Baru kecuali kitab Wahyu, ke dalam bahasa Malabar.

Manuskrip-manuskrip dari warisan Kanisah Orthodox Syria ini adalah manuskrip yang tak ternilai dan yang tertua di dunia, khususnya manuskrip yang dipindahkan dari perbendaharaan Biara Kanisah Orthodox Syria di Mesir dan kemudian di bawa ke perpustakaan-perpustakaan Vatican, London, Milan, Berlin, Paris, Oxford, Cambridge dan perpustakaan-perpustakaan lainnya. Beberapa di antara manuskrip-manuskrip itu ditulis pada abad ke lima dan ke enam Masehi. Kemudian versi Injil yang tertua adalah manuskrip Injil dalam bahasa Syria (Aram) yang ditulis oleh seorang rahib dari kota Eddesa (Urhoy atau Urfa), yaitu Ya’qub al-Urfa, di Urhoy pada tahun 411 Masehi. Injil dalam bahasa Aram ini masih disimpan di British Museum. Dalam kaitan ini, Abuna Martin telah menghimpun 55 manuskrip Injil berbahasa Aram yang berasal dari abad ke lima, ke enam dan ke tujuh Masehi, jumlah yang cukup besar bila dibandingkan dengan 22 manuskrip Injil dalam bahasa Latin dan hanya 10 buah manuskrip Injil dalam bahasa Yunani. Kanisah Orthodox Syria sangat teguh dalam kecintaan mereka akan al-Kitab sehingga mereka berusaha menuliskan dan menghiasi al-Kitab itu seindah mungkin. Mereka menggunakan huruf kaligrafi Estrangela dan Serta Barat. Di antara manuskrip terbaik yang terkenal adalah Injil yang ditulis oleh Patriarkh Rabula dari Urhoy (Eddesa atau Urfa) yang diselesaikannya pada tahun 586 Masehi.

Kegiatan Penginjilan

Orang-orang Natsuraya Syria telah membawa obor Injil pertama kali ke seluruh daerah Timur. Bangsa-bangsa di Timur telah dibimbing oleh terang Injil untuk mengenal al-Masih, sehingga beribu-ribu orang dari berbagai bangsa dan negara, yaitu bangsa-bangsa Arab dari berbagai suku, bangsa Persia, Afghanistan, India dan China. Mereka telah mengambil bagian dalam mewartakan Injil kepada bangsa Armenia. Pada abad ke enam, orang-orang Syria itu telah membawa kepada penggembalaan al-Masih sejumlah besar warga bangsa Ethiopia dan Nubia melalui jerih lelah Abuna Yulian, dan sejumlah 70 – 80 ribu orang dari Asia Kecil, Qarya, Phrygia, dan Lydia melalui jerih lelah Mar Yuhanna dari Amed, yaitu uskup termasyhur dari Efesus. Syria (Aram) adalah bahasa liturgi dari seluruh Kanisah Timur selain digunakan bahasa-bahasa berbagai asal kebangsaan mereka. Kanisah Armenian, misalnya, selain memakai bahasa Syria (Aram) sehingga karena menggunakan bahasa ini mereka telah dikucilkan oleh Kanisah Byzantium atau Kanisah Orthodox Yunani, mereka menulis bahasa Armenia mereka dalam aksara Syria (Aram), sampai akhirnya Meshrope, salah seorang dari sarjana mereka, bekerja sama dengan Malfan Daniel orang Syria itu, akhirnya ia menjadi penemu aksara Armenia.

Inilah sekilas tentang Kanisah mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul fasal 11 ayat 26, yakni Kanisah Orthodox Syria yang berhaluan non Calsedon atau Oriental, yang dari dulu sampai sekarang tetap melestarikan Kanisah Sayidina Isha al-Masih dan melakukan segala doktrinNya serta tetap melestarikan dan mempraktekkan segala Tradisi Sayidina Isha al-Masih dan para RasulNya. Kiranya hanya DIA yang layak disembah, diagungkan, dimuliakan, dihormati, disanjung, dijunjung tinggi dalam KanisahNya melalui doktrin dan TradisiNya dan para RasulNya. Amin.

https://www.facebook.com/ permalink.php?story_fbid=452706881468614&id=239606062778698

Iklan