Bangsa Syria adalah bangsa Aramia itu sendiri, yaitu para penghuni kawasan Bulan Sabit Subur (Syria, Libanon, Yordan, Palestina, Iraq dan Turki sebelah Tenggara). Mereka berasal dari gurun Syria pada abad ke-14 sebelum Masehi, dan mendiami pusat-pusat kota serta mendirikan banyak kerajaan. Yang terkuat dari kerajaan-kerajaan Aramia adalah kerajaan-kerajaan Damaskus, Nahreen (Mesopotamia), Sobah dan Padan-Aram. Mereka menggunakan bahasa mereka di seluruh daerah kekuasaan mereka dan menjadi para penguasa di kawasan itu selama lima abad berturut-turut. Kedaulatan mereka berakhir pada tahun 732 sebelum Masehi dengan jatuhnya Damaskus di tangan bangsa Ashur (Assyrian). Sekalipun kedaulatan politis mereka telah lenyap, mereka tetap menjadi bagian terbesar dari populasi di kawasan itu, dan tetap memainkan peranan besar dalam sejarah dunia.

Bahasa Arami mereka tetap berdaulat tanpa tanding di seluruh kawasan Timur Tengah dalam segala aspek peradaban, khususnya dalam bidang pengetahuan, dan masih tetap tak tertandingi bahkan setelah invasi Islam Arab pada abad ketujuh Masehi. Bahasa Arami masih tetap lestari pada nama-nama ratusan kota dan desa-desa di Timur Tengah, khususnya di Syria, Libanon dan Iraq. Pemakaian istilah “Syria” dan “Syrian” menunjukkan tanah Aram dan bangsa Aramia, yang sudah dipakai sebelum kelahiran Almasih, di era Selucia, tepatnya setelah diselesaikannya versi Alkitab Perjanjian Lama versi Septuaginta pada tahun 280 sebelum Kristus, di mana kata “Aram” diterjemahkan sebagai Syria, yaitu kata yang sama maknanya dengan “Aram”. Dari sini, nama “Syria” mulai menggantikan kata “Aramia” secara perlahan-lahan. Setelah kelahiran Kristus, nama baru itu mulai digunakan secara luas sampai akhirnya hampir menghilangkan nama Aramia di seluruh wilayah geografis Syria. Karena bangsa Aramia itu, yang kemudian telah menjadi orang-orang Kristen, mereka jadi sangat saleh dan berpegang teguh pada agama mereka yang baru itu, dan karena bangga akan Para Rasul Almasih yang menjadi para panutan mereka, maka mereka kemudian meninggalkan nama “Aramia” kemudian menggantinya dengan sebutan “Syria” dengan maksud untuk memisahkan diri dari pertalian mereka dengan orang-orang kafir Aramia.

Namun, sekelompok penulis masih tetap menggunakan istilah “Aramia” ketimbang sebutan “Syria” karena menganggap kedua sebutan itu sama saja artinya. Misalnya, mereka akan katakan, “Ia adalah ‘penulis Syria Aramia’ dan ‘bahasa Syria Aramia’. Tetapi, tidak pernah dikatakan “Gereja Aramia” ketimbang “Gereja Syria”; istilah “Suryani” atau “Syria” dalam bahasa Arami Syria adalah “Suryoyo” dan terjemahan tepatnya adalah “Syria”, yaitu seorang warga negara Syria (Syria secara geografis). Tetapi, secara universal istilah “Gereja Syria” berarti semua gereja yang dulu dan sekarang menggunakan bahasa Syria (Arami) sebagai bahasa liturgi mereka, dan yang dulunya dan yang sekarang ini berada di bawah yurisdiksi Patriarkh Anthiokhia.

Lahirnya Gereja Syria

Gereja Syria diawali dari Yerusalem yang terdiri dari para Rasul Yesus Kristus, para penginjil dan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Gereja ini kemudian berpindah ke kota Antiokhia, dan kemudian ke Urhoy (Eddesa) ditambah dengan orang-orang Aramia yang sudah bertobat dan bangsa-bangsa non-Yahudi yang lain. Gereja ini pertama kali didirikan di Antiokhia oleh Rasul Petrus, pemimpin para rasul, yang dianggap sebagai Patriarkh pertama dari Tahta Suci Rasuliah Antiokhia. Rasul Petrus sendiri menunjuk Mar Awwad (St. Avodius) dan Mar Ignatius Sang Pencerah sebagai para pengganti beliau. Mereka kemudian menggantikan tugas rasulinya setelah Rasul Petrus mati shahid di kota Roma. Kemudian, kota Antiokhia tidak saja menjadi Gereja Kristen yang pertama, tertua dan paling terkenal, tetapi juga menjadi dasar dari Kekristenan. Di kota Antiokhia-lah saat itu para rasul Yesus Kristus disebut sebagai orang-orang Kristen.

Doktrin Gereja Syria

Asas keimanan Gereja Orthodox Syria dapat diringkas sebagai berikut:
Gereja ini percaya sepenuhnya akan Satu pribadi ganda Tuhan Yesus, dan satu sifat ganda yang terdiri dari dua sifat: yaitu ilahi dan insani, yang tidak dapat bercampur, tak dapat dipisahkan dan tak berganti-ganti. Dengan kata lain, dua sifat (ilahi dan insani) tergabung dalam satu sifat yang tanpa bercampur, tak terlebur dan tak berubah-ubah, tak berganti dan tak rancu. Batasan ini berlaku bagi semua sifat keilahian dan kemanusiaanNya. Berdasarkan definisi ini, keilahianNya menyatu dengan kemanusiaanNya, atau dengan tubuhNya, ketika Almasih disalibkan, dan tidak pernah keilahianNya meninggalkan tubuhNya, bahkan untuk sedetik pun. Karena itu, salah besar dan sangat menyimpang dari iman Kristen yang universal bila orang mengatakan, “Kristus itu disalibkan tubuhNya saja.” Tetapi sebaiknya dikatakan, “Firman Allah yang telah menjelma itu adalah Tuhan Yang Mahamulia yang telah disalibkan,” namun, kami mengatakan, “Ia telah menderita dan wafat dalam daging (dalam keadaannya sebagai manusia),” sebab keilahianNya tidak pernah tersentuh penderitaan dan kematiaan. Sebagai konsekuensinya, Maria adalah “Ibu dari Dia (Firman Allah yang telah menjelma) Yang Ilahi,” dan ungkapan “Engkau yang telah disalibkan bagi kami” adalah benar sebagaimana diucapkan dan diyakini dalam Trisagion, yang dialami oleh sifat kedua dariNya, yaitu Kristus.

Asas iman inilah yang dipegang teguh oleh Gereja Syria Antiokhia dan Gereja Koptik Aleksandria yang telah menolak Konsili Kalsedonia dan dokumen Leo dari Roma (Buku besar yang disebut Surat Paus Leo), karena kami hanya mengakui dasar-dasar iman yang ditetapkan tiga konsili ekumenikal di Nikea tahun 325 Masehi, Konsili Konstantinopel tahun 381 Masehi dan Konsili Efesus 431 Masehi. Dari sini, nama “Orthodox” yang kami kenakan berarti “Iman Yang Benar” yang dikenal oleh ummat Syrian, Koptik, Armenia dan Ethiopia. Gereja-gereja itulah yang disebut sebagai “sister Churches” (Gereja-gereja saudari mereka). Mereka bersama-sama telah mengalami berbagai penderitaan dan penganiayaan-penganiayaan yang kejam yang ditujukan kepada mereka oleh Kaisar Byzantium panganut Konsili Kalsedon tersebut.

Liturgi Bahasa Arami

Tidak bisa disanggah lagi bahwa bahasa yang diucapkan Yesus dan banyak generasi sebelum Masehi dan oleh Kekristenan mula-mula, dan sampai abad ke-5 Masehi adalah bahasa Arami (Syriac). Selain itu, orang-orang Yahudi telah menulis beberapa bagian kitab suci mereka dalam bahasa Arami atau dalam aksara Arami, sebagaimana dibuktikan oleh gulungan-gulungan kitab dari Laut Mati yang ditemukan pada tahun 1974 oleh Yang Mulia Mar Athanasius Yashu Samuel, yang saat itu menjadi Uskup di Yerusalem (sekarang sebagai Uskup untuk Amerika Serikat dan Canada). Maka terbukti bahwa para murid Yesus dan para penerus mereka menggunakan bahasa Syria (Arami). Maka, hanya dapat dipahami bahwa ibadah liturgis mereka dilakukan dalam bahasa Syria (Arami). Sebab para penginjil yang memberitakan Injil di Anthiokhia yang berasal dari Yerusalem itu beribadah dalam bahasa Syria (Arami), maka sudah tentu bahasa Syria (Arami) itu menjadi bahasa Liturgi gereja Anthiokhia, dan gereja ini memakai liturgi dalam bahasa Syria (Arami) yang disusun oleh Rasul Yakobus, saudara Tuhan Yesus sekaligus sebagai uskup pertama di Yerusalem. Semua orang tahu bahwa gereja di Yeruselam menggunakan Liturgi Rasul Yakobus sampai berakhirnya ketujuh-belas uskup Syria yang pertama. Namun, ketika para duta dari Konstantinopel mulai merebut kepemimpinan gereja di Antiokhia, mereka menggantikan Liturgi Rasul Yakobus dengan Liturgi Basilius dari Kaisarea (379 Masehi) dan Liturgi John Chrysostom (407 Masehi), yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arami. Tetapi, Liturgi Rasul Yakobus sendiri tetap ada di gereja Antiokhia. Itu sebabnya maka Liturgi Syria (Arami) disebut sebagai Liturgi Antiokhia. Dari Liturgi ini maka dapat dilacak kembali asal-muasal semua liturgi gereja. Karena itu, Gereja Antiokhia sangat bangga bahwa Liturgi mereka menggunakan bahasa Syria (Arami), yaitu bahasa yang telah dikuduskan oleh lidah suci Tuhan kita, dan yang dihormati oleh lidah Maria, IbuNya dan oleh para rasulNya yang kudus. Dalam bahasa inilah Rasul Matius menuliskan Injil, dan dalam bahasa inilah Injil diwartakan pertama kali di Yudea, Syria dan daerah-daerah sekitarnya.

Baktinya bagi Injil

Gereja Syria menjalankan peranan penting dalam bidang literatur Alkitab. Para sarjana mereka mengakar dalam lautan misteri Alkitab yang begitu luas dan tak terungkapkan. Merekalah yang pertama kali menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Syria (Arami), bahasa mereka sendiri. Kemudian, mereka melakukan pengkajian-pengkajian yang mendalam yang memperkaya perpustakaan-perpustakaan di Timur dan Barat dengan berjilid-jilid buku pelajaran dan tafsir Alkitab yang tak terhitung jumlahnya sekalipun malapetaka dan nasib buruk menimpa tanah kelahiran mereka, sehingga menyebabkan banyak kerugian karena Perang Dunia I, dan karena pemusnahan ribuan buku manuskrip kitab-kitab suci yang tak ternilai harganya itu oleh para musuh mereka. Setelah mereka mempelajari Alkitab dalam bahasa Arami mereka sendiri, maka mereka melakukan usaha-usaha tanpa lelah dengan menterjemahkan karya-karya tulis mereka itu ke dalam bahasa-bahasa lain. Maka sekitar tahun 404 Masehi, Malphan Daniel orang Syria serta Mesroph orang Armenia itu bekerja sama menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Armenia. Sarjana bahasa Arami yang berasal dari Arabia dari banu Thayy, Tanukh dan banu Aqula (Al-Kuufa) menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab atas perintah Patriarkh Syria, Mar Yuhanna II, demi memenuhi permintaan Umair Ibnu Saad ibn Abi Waqqass Al-Anshari, raja di Jaziratul Arabia. Yuhanna bar Yawsef, seorang imam Syria dari kota Taphliss (selatan Rusia), menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Persia pada tahun 1221 Masehi. Pada dasawarsa pertama di abad ke-19, Raban Philipos orang Syria dari Malabar, India, telah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Malayalam, bahasa yang dipakai di India Selatan. Pada abad lalu, abad ke-20, Chorepiscopus Mattay Konat orang Syria dari Malabar, telah menterjemahkan seluruh Perjanjian Baru kecuali kitab Wahyu, kedalam bahasa Malabar.

Sejumlah besar manuskrip dari warisan gereja ini yang tak ternilai artinya masih tetap dilestarikan. Manuskrip-manuskrip itu termasuk yang tertua di dunia, khususnya yang dipindahkan dari perbendaharaan Biara Gereja Syria di Mesir dan kemudian dibawa ke perpustakaan-perpustakaan Vatican, London, Milan, Berlin, Paris, Oxford, Cambridge dan perpustakaan-perpustakaan lain. Beberapa di antara manuskrip-manuskrip itu ditulis pada abad kelima dan keenam Masehi. Kemudian versi Injil yang tertua adalah manuskrip Injil dalam bahasa Syria (Arami) yang ditulis oleh seorang rahib dari kota Eddesa (Urhoy atau Urfa), yaitu Ya’qub Al-Urfa, di Urhoy pada tahun 411 Masehi. Injil dalam bahasa Arami ini masih disimpan di British Museum. Dalam kaitan ini, Abuna Martin telah menghimpun 55 manuskrip Injil berbahasa Arami yang berasal dari abad kelima, keenam dan ketujuh Masehi, jumlah yang cukup besar bila dibandingkan dengan 22 manuskrip Injil dalam bahasa Latin dan hanya 10 buah manuskrip Injil dalam bahasa Yunani. Gereja Syria Orthodox sangat teguh dalam kecintaan mereka akan Alkitab sehingga mereka berusaha menuliskan dan menghiasi Alkitab itu seindah mungkin. Mereka menggunakan huruf kaligrafi Estrangela dan Serta Barat. Di antara manuskrip terbaik yang terkenal adalah Injil yang ditulis oleh Patriarkh Rabuula dari Urhoy (Eddesa atau Urfa) yang diselesaikannya pada tahun 586 Masehi.

Kegiatan Penginjilan

Orang-orang Kristen Syria telah membawa obor Injil pertama kali ke seluruh daerah Timur. Bangsa-bangsa di Timur telah dibimbing oleh terang Injil untuk mengenal Kristus, sehingga beribu-ribu orang dari berbagai bangsa dan negara, yaitu bangsa-bangsa Arab dari berbagai suku, bangsa Persia, Afghan, India dan China. Mereka telah mengambil bagian dalam mewartakan Injil kepada bangsa Armenia. Pada abad keenam, orang-orang Suryani itu telah membawa kepada penggembalaan Kristus sejumlah besar warga bangsa Ethiopia dan Nubia melalui jerih lelah Abuna Yulian, dan sejumlah 70 – 80 ribu orang dari Asia Kecil, Qarya, Phrygia, dan Lydia melalui jerih lelah Mar Yuhanna dari Amed, yaitu uskup termasyhur dari Efesus. Syria (Arami) adalah bahasa liturgi dari seluruh gereja Timur selain digunakan bahasa-bahasa berbagai asal kebangsaan mereka. Gereja Armenian, misalnya, selain memakai bahasa Syriac (Arami) sehingga karena menggunakan bahasa ini mereka telah dikucilkan (oleh Gereja-gereja Byzantium), mereka menulis bahasa Armenia mereka dalam aksara Syria (Arami), sampai akhirnya Meshrope, salah seorang dari sarjana mereka, bekerja sama dengan Malfan Daniel orang Syria, akhirnya ia menjadi penemu aksara Armenia.

Gereja-Gereja Berbahasa Arami

Dalam empat abad pertama Masehi, ada empat Gereja Kristen yang menonjol, yaitu Gereja Syria Antiokhia, Gereja Latin di Roma, Gereja Koptik Alexandria dan Gereja Byzantium Konstantinopel, semuanya memiliki hubungan baik dan memegang satu asas iman, iman gereja yang universal, sekalipun bermunculan beberapa ajaran asing yang bertentangan dengan kebenaran Injil. Ajaran-ajaran sesat yang muncul di jaman itu di antaranya adalah ajaran Simon Tukang Sulap, Kyrinthos, Kirdon, Marcion, Hermogenos, Bar Daysan, Titianos, Mani, Arius, Macedonius dan Ewnomius. Bidat-bidat tersebut bertentangan dengan para rasul dan bapak-bapak gereja dan para rohaniwan Antiokhia, Alexandria dan Roma.

Ajaran sesat mereka telah ditolak, dan dikucilkan sampai tanpa jejak lagi. Di awal abad kelima Masehi, seorang Patriarkh Konstantinopel bernama Nestor, datang membawa ajaran baru yang bertentangan dengan iman Gereja Universal yang kudus. Ia menyatakan bahwa “ada dua sifat dan dua pribadi Kristus, sehingga ada dua Kristus; yang satu adalah putera Allah, dan yang lain adalah anak manusia, dan bahwa Maria tidak melahirkan seorang Tuhan yang menjelma, tetapi ia melahirkan seorang manusia sejati yaitu Yesus Kristus, yang di kemudian hari Firman Allah berdiam di atasnya. Ajaran Nestor diterima oleh sebagian kecil warga gereja Syria yang tinggal di wilayah kekuasaan Persia, sebagian kecil lagi di Syria, Palestina dan Cyprus. Namun, mereka telah memisahkan diri dari Gereja Syria Antiokhia dan kemudian mendirikan sendiri pusat kepemimpinan mereka di Madaen, Iraq, kemudian memindahkan markas mereka ke kota Baghdad pada tahun 726 Masehi. Sampai saat ini, gereja mereka dikenal dengan nama “Gereja Syria dari Timur”, atau “Gereja Nestoria Syria”. Tetapi kemudian mereka mengubah nama mereka pada abad keduapuluh dan menyebut diri mereka sebagai “Gereja Assyria”. Dari Gereja inilah berasal gereja Katholik Kaldean pada tahun 1553 Masehi. Patriarkh mereka disebut “Patriarkh Babylonia” (1713 Masehi). Akhir-akhir ini, mereka menyebut diri mereka sebagai “Gereja Assyria-Katholik Kaldea”.

Ketika Konsili Kalsedonia berakhir pada tahun 451 Masehi, empat gereja utama tersebut terpisah menjadi dua kelompok: kelompok pertama termasuk Gereja Syria Antiokhia dan Gereja Koptik Mesir yang percaya akan satu sifat Kristus yang merupakan kesatuan dari dua sifat (ilahi dan insani), mereka ini disebut aliran Non-Kalsedonia. Kelompok kedua termasuk Gereja Latin Roma dan Gereja Byzantium Konstantinopel, yang percaya akan dua sifat Kristus bahkan setelah Ia memiliki kesatuan dari dua sifat, mereka ini disebut sebagai aliran Kalsedonia. Ada juga sekelompok warga gereja Syria Antiokhia yang memisahkan diri dari induk Gerejanya kemudian mengikuti aliran gereja Byzantium Kalsedonia.

Saudara-saudara sesama warga Syria itu kemudian menyebut mereka yang mengikuti aliran Byzantium Kalsedonia itu pada paruh kedua abad kelima Masehi dalam bahasa Syria, bahasa ibu mereka, dengan sebutan Malkoye atau dalam bahasa Inggris disebut kaum Melkit yang berarti para pengikut Kaisar, karena mereka telah meninggalkan iman Gereja Syria leluhur mereka dan mengikuti raja Byzantium bernama Marcion. Mereka juga disebut “Roum” menurut Negara Roma Timur (sebutan untuk Byzantium) yang telah menerima iman Kalsedonia sebagai iman yang resmi dianut di negara itu. Mereka kemudian menyebut diri mereka sebagai Gereja Yunani, karena penduduk negeri Konstantinopel, ibu kota kekaisaran Byzantium itu, menggunakan bahasa Yunani. Namun, nama Melkite cukup menonjol. Sekarang ini, mereka menyebut diri mereka “Gereja Orthodox”. Dari gereja Melkite inilah kemudian muncul gereja orang-orang Maronit di abad ketujuh Masehi gara-gara sengketa soal doktrin satu kehendak dan dua kehendak Kristus.

Gereja Maronit tetap independen sampai akhir abad kedua belas ketika mereka bergabung dengan Gereja Roma Katholik dan mulai menyebut Partriarkh mereka sebagai “Partriarkh Antiokhia”. Dari gereja Orthodox Yunani itu keluarlah cabang baru namanya Katholik Yunani. Schisma besar lain yang menyakitkan terjadi lagi di tubuh gereja Orthodox Syria di Antiokhia pada pertengahan abad ketujuh belas ketika warga Gereja Katholik Syria memisahkan diri dari induk gereja mereka kemudian bergabung dengan Roma melalui usaha-usaha penghancuran para biarawan Kapouchian dan dengan bantuan konsul Perancis di Aleppo. Jadi, Gereja Syria sekarang memiliki tujuh cabang Gereja:

Gereja Orthodox Syria, induk gereja.
Gereja Syria dari Timur (Gereja Katholik Kaldea atau Gereja Nestoria, menurut nama mereka yang baru).
Gereja Kaldea Syria (Gereja Katholik Kaldea Assyria, menurut nama mereka yang baru).
Gereja Maronit Syria.
Gereja Katholik Syria.
Gereja Orthodox Yunani berpusat di Antiokhia (di negera-negara Arab) atau gereja Syria Melkit.
Gereja Katholik Yunani (Gereja Katholik Melkit Syria).

Liturgi yang digunakan oleh gereja-gereja itu adalah Liturgy bahasa Syria dari Antiokhia, dan bahasa liturgi mereka adalah satu, yaitu bahasa Arami Syria. Kelima gereja yang disebut pertama di atas masih menggunakan bahasa Syria (Arami) dalam ibadah-ibadah mereka. Gereja Orthodox Syria, Katholik Syria dan gereja Maronit menggunakan dialek Syria Barat yang dipakai di Urhay (eddesa), sedangkan gereja-gereja Assyria dan Kaldea menggunakan dialek Syria Timur. Perbedaan di antara dua dialek itu hanya dalam pengucapannya saja. Dua gereja yang lain, yaitu gereja Orthodox Yunani dan Katholik Yunani, tetap menggunakan Liturgi Antiokhia untuk waktu yang cukup lama. Bahasa Syria (Arami) dilestarikan oleh kedua gereja ini sampai abad ketujuh belas Masehi. Tetapi, selama sepuluh abad lamanya, mereka telah menggantikan Liturgi Antiokhia mereka dengan Liturgi Byzantium setelah mereka menterjemahkan Liturgi Byzantium itu ke dalam bahasa Syria (Arami).

Gereja Syria dan Bangsa Arab

Hubungan antara orang-orang Syria dan orang-orang Arab dimulai dengan penaklukan daratan Syria oleh bangsa Arab Muslim. Hubungan itu bertumbuh makin kuat di jaman Khalifah Umar bin Khaththab yang disebut “Faruqo”. Faruqo adalah bahasa Syria yang berarti “Juru Selamat” atau “Sang Pembebas”. Orang-orang gereja Syria memberi nama kepada Khalifah ini karena ia telah menyelamatkan mereka dari tekanan Byzantium. Penaklukan bangsa Arab atas daratan Syria tidak akan dapat terwujud tanpa bantuan orang-orang Syria pribumi. Hubungan antara orang-orang Syria dan bangsa Arab mencapai puncaknya di jaman Dinasti Abbasiyah. Hubungan itu dijalin atas dasar etnisitas. Bangsa Syria dan Arab adalah dua bangsa Semitis. Mereka memiliki asal muasal yang sama di masa lalu. Bahasa mereka, bahasa Syria (Arami) dan Arab, adalah bahasa satu ibu. Mustafa Shahabi, seorang sarjana Arab mengatakan, “Bangsa Syria memiliki hubungan yang baik dengan bangsa Arab dalam lintasan sejarah mereka.”

Hubungan-hubungan itu pasang surut juga, kadang-kadang kuat dan kadang-kadang agak renggang, tergantung pada siapa penguasanya, dan karena kurang saling mengenal, namun keduanya tidak pernah bertikai. Di antara warga gereja Syria itu sejak jaman paling dini, ada sarjana-sarjana besar yang fasih berbahasa Arab, yang menulis buku-buku dalam bahasa ini, dan menterjemahkan karya-karya agung. Demikian juga, ada orang-orang Arab yang menjadi Kristen dan mengikuti iman gereja Syria, khususnya sebelum munculnya agama Islam di Timur Tengah. Saking dekatnya hubungan dengan mereka itu sehingga mereka merasakan bagian dari bangsa Syria itu. Bahasa Arab di jaman kita sekarang membutuhkan orang-orang yang menguasai bahasa Arab dan Syria (Arami), sehingga mereka dapat merasakan jejak-jejak pengaruh bahasa warga gereja Syria itu atas bahasa Arab, dan menyadari jasa-jasa tak ternilai kepada bahasa Arab ini yang diberikan oleh bahasa warga gereja Syria di masa-masa kejayaan Islam yang lalu.

Sejarahwan terkanal Philip Hitti menulis, “Yang menyebabkan terjadinya kebangkitan bangsa Arab dan munculnya renaisance intelektual mereka di Baghdad pada jaman dinasti Abbasiyah adalah karena jasa-jasa warga gereja Syria. Renaisance intelektual yang dulu sampai sekarang masih menjadi kebanggaan agama Islam di masa lalu.” William Wright, seorang sarjana Barat mengatakan, “Warga gereja Syria-lah yang membawa pemikiran cemerlang bangsa Yunani ke dalam pemikiran-pemikiran bangsa Arab, dan di kemudian hari pemikiran-pemikiran itu dipindahkan ke Eropa pada jaman pertengahan.” Secara linguistik, bangsa Arab mengadakan hubungan dengan warga gereja Syria sejak jaman Jahiliyah, yaitu sebelum jaman Islam. Hubungan itu semakin kuat setelah penaklukan ummat Islam atas daratan Syria. Banyak orang Arab yang mengetahui bahasa Syria (Arami). Kita mengetahui bahwa Muhammad s.a.w., nabi ummat Islam itu, mendorong para pengikutnya untuk belajar bahasa Syria (Arami), yaitu bahasa yang dipakai warga gereja Orthodox Syria sampai sekarang. Dalam kitab yang berjudul “Pena dan Botol Tinta” yang ditulis oleh Muhammed ibn Omar Al-Madaini, kita baca ketika Muhammad s.aw. bertanya kepada Zaid ibn Tsabit, “Apakah engkau tahu bahasa Arami ?” “Tidak”, kata Zaid. “Pelajarilah bahasa itu”, kata Muhammad s.a.w. memberi perintah kepadanya. Maka Zaid ibn Tsabit memepelajari bahasa itu selama tujuh belas hari.

Bahasa Arab sangat banyak meminjam kosa kata bahasa Syria (Arami) karena itu bahasa ini penuh dengan kata-kata dari bahasa Syria. Bangsa Arab juga meminjam angka-angka yang dipakai bangsa India. Kaligrafi Arab, khususnya khot Kufi yang dipakai dalam kaligrafi Islam memang berasal dari huruf Kufi yang biasa dipakai orang-orang Kristen Syria. Tata bahasa Arab juga banyak dipengaruhi oleh tata bahasa Syria. Aba Al Aswad Ad-Du’ali (688 Masehi), yang dianggap sebagai penemu tatabahasa Arab, pergi ke Kufa, dan di sana ia mempelajari bahasa Syria klasik, dan ia mengadakan kontak dengan para sarjana bahasa Syria meminta bantuan mereka agar bisa menciptakan tatabahasa Arab. Ia sangat bergantung pada tatabahasa dan para ahli tatabahasa Syria dengan mengikuti tata pengorganisasian, klasifikasi, aturan-aturan yang sama seperti dipakai untuk tatabahasa Syria. Lebih penting lagi, ia meminjam sistem pemberian titik untuk membedakan kata-kata dan huruf-huruf pendek yang telah ditemukan sebelumnya oleh sarjana bahasa Syria Mar Ya’qub dari Urhoy. Dalam bidang intelektual, beberapa filsuf Arab, seperti Ibnu Sina, mempelajari kebijaksanaan dan mendapatkan pengetahuan dari filsafat Yunani melalui sumber-sumber dalam bahasa Syria. Al-Kindy dalam salah satu kitab yang ditulisnya mengatakan, “Mereka (orang-orang Kristen Syria) menjadi jalan bagi kami dan memberi sarana untuk mendapatkan banyak sekali pengetahuan. Tanpa peranan mereka, karya-karya asli para perintis ilmu pengetahuan itu tidak akan sampai kepada kita (bangsa Arab).” Sarjana Arab yang lain menulis, “Dapat kita katakan bahwa orang-orang Kristen Syria-lah yang pertama kali mengajarkan filosofi kepada ummat Islam. Yang kedua, merekalah yang menterjemahkan kepada kita buku-buku filsafat; dan karena itu, ummat Islam sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran filsafat orang-orang Kristen Syria.”

Status Sekarang

Putera-putra Gereja Orthodox Syria Antiokhia sekarang tersebar ke seluruh dunia. Mereka tetap hidup dalam jumlah yang cukup besar di negara-negara Timur Tengah , (Syria, Libanon, Iraq, Yordan, Palestina, Mesir, dan di negera-negara Teluk), Turki, Eropa (khususnya di Swedia, Jerman dan Belanda), Amerika Utara dan Selatan, Australia dan di India. Warga gereja itu jumlahnya sekitar tiga juta jiwa, setengah dari mereka tinggal di India. Pada semua negara itu, masyarakat Orthodox Syria menikmati status yang terhormat, dan memegang jabatan-jabatan yang membanggakan, sebab mereka setia kepada iman mereka dan memiliki karakter Kristen yang baik, mereka menjadi warga negara yang baik, setia kawan dan tulus. Mereka adalah para pekerja keras yang akhirnya menikmati taraf kehidupan yang tinggi. Seorang sejarahwan dan ahli riset Barat menulis, “Tidaklah sulit bagi perlindungan Ilahi untuk membuat akar-akar kehidupan masyarakat Orthodox Syria itu menancap dalam-dalam ke bumi lagi, sehingga mereka dapat menghasilkan buah-buah kehidupan yang berlimpah; sebab mereka telah dibebaskan dari hegemoni doktrin-doktrin bangsa asing dan kekuasaan-kekuasaan politik bangsa asing dan dari ketidak adilan, dari kekejaman-kekejaman dan penganiayaan-penganiayaan yang keji yang mereka alami untuk waktu yang cukup lama. Sekarang ini, dengan semua kelemahan mereka, mereka tetap menghadirkan wajah gereja-gereja kuno yang pada suatu ketika di masa lalu pernah berkembang subur ke seluruh dunia.” Pimpinan gereja ini sekarang adalah Yang Mulia Mar Ignatius Zakka Al-Awwal Iwas. Gelarnya adalah “Patriarkh Antiokhia dan seluruh Timur, dan Pimpinan Tertinggi Gereja Orthodox Syria universal di seluruh dunia.” Ia adalah pewaris tahta rasuli Rasul Petrus yang ke-122. Ada 28 Archdiosis dalam gereja ini sekarang, delapan di antaranya ada di India, dan sisanya tersebar ke seluruh negara di mana masyarakat Kristen Syria hidup dan berkembang.

Kesimpulan

Tulisan ini adalah penggambaran yang sebenarnya tentang Gereja Orthodox Syria, tapi mungkin tidak lengkap, tentang Gereja Timur yang memiliki asal-muasal yang amat mulia. Gereja ini memiliki kepribadian rohani yang lengkap dalam segi iman, doktrin, liturgi, pelayanan dan karya penginjilannya. Gereja yang tubuhnya sedemikian tercabik-cabik oleh perpecahan dan schisma sehingga gereja ini pernah memiliki banyak sekali nama dan julukan. Mungkin dengan doa dan dialog maka luka-lukanya yang lama dapat disembuhkan dan bagian-bagian tubuhnya yang tercerai berai itu bisa disatukan kembali sehingga persekutuan dalam iman dapat dipulihkan, keterasingan dapat dilenyapkan dan digantikan dengan berkat, kesatuannya dapat digenapi sebagaimana keadaannya semula di jaman Kekristenan silam, menurut semangat Injil di mana Tuhan kita pernah bersabda, †“Sehingga mereka semua menjadi satu.” †

Oleh : Rev. Fr. Dr. Joseph Tarzi Pastor of St. Ephrem’s Cathedral Burbank.
Diterjemahkan kembali Oleh: Henney Sumali, December 4, 2010
sumber – http://christianforpeace.blogspot.com/2010/12/sejarah-kanisah-orthodox-syria.html

 

Iklan