Gereja perdana terdiri dari komunitas Yahudi+Yudaisme dan komunitas non Yahudi dari Yunani dan bangsa-bangsa lainnya yang menerima Yesus (Yahshua) sebagai Mesias dan Putra Tuhan. Mereka yang berasal dari golongan Yahudi dijuluki dengan Sekte Nazarene (Kis Ras 24:5). Kemudian di Anthiokhia komunitas pengikut Yesus Sang Mesias dari kalangan non Yahudi dijuluki sebagai Christianoi (Kis Ras 11:24). Dari kata Christianoi yang artinya pengikutChristos (Kristus/Mesias) lahirlah sebutan Kristen.

Sekte Nazarene yang berakar dari kultur Yahudi dan agama Yudaisme pada awalnya menjadi bagian dari Yudaisme. Sama-sama beribadah di Bait Suci dan Sinagoga sampai akhirnya mereka terpisah dari Yudaisme karena dua alasan.

Perisiwa pertama, tahun 66-70 M, ketika pasukan Romawi dibawah pimpinan Jendral Titus hendak memusnahkan Yerusalem, maka kaum Nazarene harus mengungsi ke Pella di Transjordan dan melanjutkan keimanan dan pola hidup Yahudi. Alasan mereka mengungsi ke Pella adalah mengikuti nasihat Mesias – jika melihat ‘pembinasa keji’ berdiri di Bait Suci, maka mereka harus lari ke gunung-gunung yang tinggi (Luk 21:20-24)[4]. Sikap kaum Nazarene melarikan diri ke Pella menyebabkan mereka dijuluki Meshummed (penghancur) oleh para Rabbi. Setelah tahun 70 M, kaum Nazarene dan Yahudi kembali menetap di Yerusalem sampai masa Revolusi Bar Khokba.

Peristiwa kedua, tahun 70-132 M merupakan terbentuknya Yudaisme Rabinik, dimana golongan yang berpengaruh pada waktu itu adalah kaum Farisi. Setelah golongan Saduki yang berkuasa terhadap Bait Suci kehilangan pengaruh karena hancurnya Bait Suci, maka Sinagog memainkan peranan penting. Berbagai tradisi lisan dibukukan menjadi Talmud yang terdiri atas Misnah dan Gemara. Di masa ini terjadi perselisihan yang semakin tajam antara kaum Nazarene dengan Yahudi Rabbinik. Perselisihan tersebut disebabkan kaum Nazarene menolak berbagai tradisi lisan yang disusun oleh kaum Farisi dan menolak bergabung dalam Revolusi Bar Khokba. Alasannya adalah Bar Kokhba menyebut dirinya Mesias, padahal kaum Nazarene hanya mengakui satu-satunya Mesias, yaitu Yesus (Yahshua). Akibatnya dalam struktur doa kuno Yudaisme yang disebut Shemone Esrei (18 doa berkat) ditambahkanlah satu doa kutukan terhadap keberadaan ha Minim (Bidat), yaitu kaum Nazarene yang tidak mau ikut dalam Revolusi Bar Khokba[5].

Sekte Yudaisme ini terekam dalam berbagai tulisan Kristiani sejak abad 2 M sampai 11 M. Sebut saja Irreneus[6], Eusebeius[7], Epiphanius[8].

Apakah yang membedakan sekte Nazarena ini dengan sekte-sekte Yahudi lainnya? Perbedaan Sekte Nazarene dengan sekte-sekte Yahudi lainnya adalah dalam hal memandang siapa Yahshua ben Yosef. Dia bukan sekadar putra Yusuf namun juga Mesias yang dijanjikan, Putra Tuhan Yang Hidup. Mereka tetap beribadah di Sinagog dan berinteraksi dengan sekte-sekte Yahudi lainnya dalam peribadahan di Bait Suci. Selain itu, sekte Netsarim menolak tradisi lisan kaum Farisi yang kelak dinamai dengan Misnah dan Gemara (Talmud).

Tidak semua penulis sependapat, kapan keberadaan sekte Nazarene ini kehilangan pengaruh dalam sejarah. Harry R. Boer memperkirakan bahwa mereka telah kehilangan pengaruh sejak tahun 62-70 M[9]. DR. Michael Schiffman memastikan lenyapnya pengaruh Nazarene pada Abad IV-V M[10]. Sementara Robert dan Remy Koch memastikan lenyapnya pengaruh Nazarene mulai Abad XI M[11].

Sementara Gereja yang terdiri dari umat Yahudi lenyap dalam sejarah maka tidak dengan gereja non Yahudi yang kelak disebut dengan Kristen. Gereja non Yahudi berkembang baik di Timur (Yunani, Asia Kecil, Timur Tengah) maupun di Barat (Eropa). Namun pada tahun 1054 M terjadi skisma (perpecahan besar) dalam tubuh gereja non Yahudi baik di Barat dan di Timur. Penyebab perpecahan adalah terkait soal pengaruh kekuasaan gereja Roma dan soal doktrin tentang Roh Kudus. Gereja di Timur menamakan dirinya Orthodox dengan bahasa Yunani dan bahasa Aram/Syria. Gereja Barat menamakan dirinya Katholik dengan bahasa Latin.

Untuk memudahkan memetakan dan melihat secara singkat perkembangan dan perpecahan dalam tubuh gereja Kristen, kita dapat menyimak bagan “Garis waktu sejarah gereja” yang dikutip dari buku Fr. Marc Dunaway[12]. Sekalipun dalam bagan tertulis “Gereja Orthodox tetap satu gereja yang utuh..” Fakta sejarah memperlihatkan bahwa Orthodox pernah diguncang oleh perpecahan juga sehingga muncul aliran-aliran Nestorianisme, Cyrilianisme, Yakobit dll.

Gereja Katolik Roma pada akhirnya harus mengalami guncangan besar saat Luther menyerukan Reformasi pada tahun 1517 M. Gerakan Reformasi Luther kelak menjadikan Protestanisme sebagai corak Kekristenan Reformasi yang melepaskan diri dari kekuatan Roma Katolik. Kekristenan Reformasi atau Protestanisme tidak dapat menahan dirinya dari berpuluh bahkan beribu kali perpecahan sehingga muncullah berbagai denominasi Kristen seperti Baptis, Methodis, Advent, Presbiterian, Anglikan, Pentakosta, Kharismatik.

Disarikan dari:
http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/07/judeochristianity-dimana-kita-berdiri_21.html#more
End Notes:
[1] Apakah Gereja Orthodox itu? Suatu Gambaran Singkat Tentang Iman Orthodox, Jakarta: Satya Widya Graha 2001, hal 3-4
[2] Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: Kanisius 2006, hal 86-87
[3] Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2003, hal 1
[4] Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore, Maryland: Lederer Messianic Publishers, 1996,, p.11
[5] Ibid., p. 15
[6] Ante Nicean Fathers, Eerdman, Vol I, Against Haeresies, I,26.2
[7] Ecclesiastical History, Book II, Chap XXIII
[8] Panarion 29
[9] A Short History of the Early Church, Grand Rapids Michigan : William B. Eerdmans Publishing Company, 1986, p. 20-21
[10] Loc.Cit., Return of the Remnant, p.15
[11] Robert & Remy Koch, Christianity: New Religion or Sect of Biblical Judaism?, Palm Beach Gardens, Florida: A Messengger Media Publication p.138
[12] Op.Cit.,Apakah Gereja Orthodox itu? Suatu Gambaran Singkat Tentang Iman Orthodox, hal 38

Iklan