Tasawuf Islam bersumber dari agama Islam sendiri, yaitu dari Alquran al-Karim, al-Hadits, contoh kehidupan Rasulullah SAW dan kehidupan para sahabat beliau. Dalam pertumbuhannya, tasawuf yang berasal dari sebuah gerakan zuhud itu kemudian berkembang menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf terpengaruh dari unsur Nasrani, Persia, India, filsafat, dan lain sebagainya. Namun lepas dari semua itu, pada kenyataannya tasawuf merupakan sebuah disiplin ilmu tersendiri yang tiap zaman memiliki corak dan karakteristiknya masing-masing.

661 M – Mu’awiyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah dan mendirikan Kerajaan Bani Ummaiyyah. Kehidupan mewah mulai meracuni masyarakat, khalifah semakin jauh dari tradisi kehidupan Nabi SAW dan semakin dekat dengan gaya hidup raja-raja Romawi. Dalam situasi demikian kaum muslimin termasuk Abu Dzar al-Ghiffari melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayyah. Dari perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya. Mereka mulai menjauhkan diri dari kehidupan mewah. Sejak itu kehidupan zuhud menyebar luas di kalangan masyarakat.

Abad 1-2 Hijriyah : Merupakan awal pembentukannya dengan tokoh-tokohnya yang bersinar antara lain Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham, Sufyan al-Sauri, dan Rabi’ah al-Adawiyah. Pada masa itu kosakata zuhud lebih populer ketimbang kosakata tasawuf.

Abad 3-4 Hijriyah : Tasawuf lebih mengarahkan pada ciri psikomoral dan perhatiannya diarahkan pada moral serta tingkah laku sehingga sudah merupakan mazhab, bahkan seolah-olah agama yang berdiri sendiri. Ada 2 aliran yang berkembang, yaitu tasawuf sunni dan tasawuf semi falsafi. Masa itu disebut masa pengembangan.

Abad 5 Hijriyah     : Disebut masa konsolidasi, ditandai kompetisi dan pertarungan antara tasawuf semi falsafi dengan tasawuf sunni. Tasawuf sunni memenangkan pertarungan. Periode ini ditandai dengan pemantapan dan pengembalian tasawuf ke landasannya yaitu Alquran dan Hadits. Tokoh-tokohnya antara lain al-Qusyairi (376-465 H), al-Harawi ( 396 H), dan al-Ghazali (450-505 H).

Abad 6 Hijriyah     : Muncul tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat, kompromi dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf.

Abad 7 Hijriyah     : Muncul cikal bakal orde-orde (thariqah) sufi kenamaan antara lain Thariqah Qadariyah oleh Abdul Qadir al Jailani (471-561 H), Thariqah Suhrawardiyah oleh Syihab al-Din Umar ibn Abdillah al-Suhrawardy (539-631 H), Thariqah Syadziliyah oleh Abu Hasan al-Syadzily (592-656 H), Thariqah Badawiyah oleh Muhammad al-Badawy (596-675 H), dan Thariqah Naqsyabandiyah oleh Muhammad ibn Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhary (717-791 H).

Abad 8 Hijriyah     : Masa pemurnian, disini tampil Ibnu Taimiyah yang menentang ajaran-ajaran sufi yang dianggapnya menyeleweng dari ajaran Islam. Ibnu Taimiyah lebih cenderung “bertasawuf” sebagaimana yang pernah diajarkan Rasulullah SAW, yakni menghayati ajaran Islam, tanpa mengikuti aliran thariqah tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial, sebagaimana manusia pada umumnya.

Disarikan dari
SEJARAH KELAHIRAN ILMU TASAWUF
Oleh : Rasyid Rizani, S.HI. M.HI
http://konsultasi-hukum-online.com/2013/06/sejarah-kelahiran-ilmu-tasawuf/

Iklan