Sejarah dan Pemikiran Ibnu Taimiyah
Oleh: Ziyad At-Tamimi, M.H.I
Posted on June 4, 2012 by admin Yayasan Bina Masyarakat (YBM)

Pendahuluan:
Tak kenal maka tak sayang! Begitulah pepatah kita mengatakannya. Ketika kita akan mencari atau mengetengahkan sosok orang yang alim, maka kita akan dihadapkan dengan pencarian yang membutuhkan keseriusan dan pada saat membaca/menulis kita akan larut di dalamnya hingga tak terasa mata ini berkaca-kaca meneteskan butir air mata. Demikianlah yang dialami oleh penulis makalah ini saat mengayunkan jari jemari di atas keyboard komputernya dalam rangka memilih kata yang tepat untuk sosok sekaliber Ibnu Taimiyah.

Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang yang alim lagi masyhur, banyak orang yang menulis tentangnya dari kalangan ulama atau penulis bahkan di antara tulisan tersebut ada yang khusus membahas tentang beliau. Sebagiannya membahas kehidupan beliau secara menyeluruh, dan ada pula yang terbatas pada sebagiannya saja.

Nama dan Nasab:
Beliau bernama Taqiyyuddin Ahmad ibn Abdil Halim ibn Abdissalaam ibn Al-Khudr Abu Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah Al-Haraaniy[1].

Sumber yang lainnya mengatakan: beliau adalah Syaikh al-Islam al-Imam Ahmad ibn Abd al-Halim ibn Abd al-Salaam ibn Abdillah ibn Muhammad ibn al-Khudhr ibn Ali ibn Abdillah ibn Taimiyah al-Harani kemudian al-Dimasyqi. Beliau memiliki kuniyah Abu al-‘Abbaas[2].

Ada pula yang menyatakan syaikh al-Islam Taqiyyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad ibn al-‘Allaamah Syihaab al-Diin Abi al-Mahaasin Abd al-Haliim ibn al-Syaikh al-Imam syaikh al-Islam Majd al-Diin Abi al-Barakaat Abd al-Salaam ibn Abi Muhammad Abdullah ibn Abi al-Qosim al-Khudhr ibn Ali ibn Abdillah ibn Taimiyah al-Haraaniy[3].

Mengenai penamaan Taimiyah ada yang mengatakan bahwa kakeknya Muhammad ibn Al-Khudhr pergi berhaji melewati jalur Taima’. Di sana dia melihat bayi. Pada saat pulang dia mendapati istrinya melahirkan seorang bayi perempuan. Dia berkata: wahai Taimiyah, lantas dia pun diberi gelar tersebut. Ada pula yang mengatakan: kakeknya ini memiliki ibu bernama Taimiyah, ia seorang penasehat; karenanya beliau dinisbatkan kepadanya dan dikenal dengan sebutan itu.

Ibnu Taimiyah dilahirkan pada hari senin tanggal 10[4] dan ada yang mengatakan tanggal 12 rabi’ul awwal 661 H. di Haran Turki bagian timur. Sebagian orang mengatakan Haran yang dimaksud adalah kota sebelah timur Damaskus, atau perbatasan antara Iraq dengan Syam. Namun pendapat yang pertama lebih tepat karena Ibnu Abdil Hadi berkata bahwa ayah Ibnu Taimiyah pergi bersamanya dan saudara-saudaranya yang lain dari Haran menuju ke Syam. Ini menunjukkan bahwa Haran yang dimaksud adalah di luar Syam.

Ibnu Taimiyah datang ke Damaskus pada tahun 667 H. saat berusia 7 tahun karena serbuan tentara Tartar dan disanalah beliau berkembang dengan perkembangan yang baik sesuai kehendak Allah.

Beliau mempunyai 3 saudara yang dikenal keilmuan mereka, yang pertama saudaranya yang seibu Badr al-Diin Abi Al-Qasim Muhammad ibn Khali Al-Harani; yang kedua saudara kadungnya Zainuddin Abd al-Rahman dan Syarafuddin Abdullah[5].

Keilmuannya:
Ibnu Taimiyah berkembang di bawah bimbingan para ulama, bahkan ayah beliau sendiri merupakan salah seorang pembesar madzhab Hanbali. Demikian pula kakek dan pamannya, mereka semua tergolong para ulama yang terkenal. Mengenai kakek beliau Al-Dzahabi berkata: “Beliau seorang imam yang sempurna, tidak ada yang menandinginya di masa itu, pangkal ilmu fiqih dan ushulnya, menonjol di bidang hadits dan maknanya serta pengetahuannya yang luas di bidang qiraat maupun tafsir”. Jamaluddin ibn Malik berkata: “Ilmu fiqih telah dimudahkan untuk syaikh al-Majd sebagaimana Allah telah melunakkan besi bagi Daud”[6]

Tanda-tanda kejeniusan telah nampak semenjak kecil, beliau senang membaca berbagai pengetahuan, berkemauan tinggi, menghadiri sekolah-sekolah dan majlis ilmu, beradu argument, mendatangkan perkara yang membingungkan para pembesar dari kalangan ulama dan beliau mulai berfatwa semenjak usia 19 tahun serta menjadi imam yang diakui oleh para ulama sebelum berusia 30 tahun.

Beliau telah belajar lebih dari 200 ulama, diantaranya: Khotib dan mufti Damaskus Syarafuddin al-Maqdisi, belajar bahasa arab pada Muhammad ibn Abd Al-Qowiy al-Maqdisi, Taqiyyuddin al-Wasithi, Muhammad ibn Ismail al-Syaibani, Al-Manja ibn Utsman al-Dimasyqi, Abd-Al-Rahiim ibn Muhammad al-Baghdadi, Zain al-din Ahmad ibn ‘Abd al-Daa im, Ibn Abi Al-Yusr, Al-Kamaal Ibn ‘Abd, Al-Majd ibn ‘Asakir, Al-Jamaal Yahya ibn Al-Shairafi, Ahmad ibn Abi Al-Khair, Al-Qaasim Al-Arbali, Fakhr Al-Diin ibn Al-Khaari, Al-Kamaal ibn Abd Al-Rahiim, Abi Al-Qaasim ibn ‘Allaan, Ahmad ibn Syaibaan, teman-teman Al-Khusyuu’iy dan selain mereka.

Mengkaji musnad Imam Ahmad, kitab-kitab hadits enam yang pokok (al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasaa i dan Ibnu Maajah) dan kitab-kitab berjilid lainnya serta Mu’jam Al-Thabraani Al-Kabiir.

Telah hafal al-Qur’an sejak kecil, kemudian memperdalam tafsir, fiqih, ilmu-ilmu bahasa arab hingga menonjol dalam hal itu dan beliau tetap menambah keilmuannya hingga kepadanya bermuara keimaman bahkan sampai pada batas berijtihad dalam hal itu. Pembahasan ini dikumpulkan oleh Al-Ba’liy dengan nama “Al-Ikhtiyaaraat Al-Fiqhiyyah” juga Ibnu Al-Qayyim mengumpulkannya dalam sebuah kitab dengan judul “Ikhtiyaaraat Ibn Taimiyah”.

Di samping luasnya pengetahuan, beliau juga menonjol di segala cabang ilmu. Seperti ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Al-Sunnah secara hafalan, pengetahuan, pengambilan hukum dalam berdalil (istinbath). Mengetahui para perawi hadits beserta derajatnya, perkataan ulama dan perbedaannya diantara mereka. Mata hatinya bening dalam menatap sebuah kebenaran yang beliau nukil perkataannya dari para ulama tersebut.

Hal ini diakui baik oleh teman, guru maupun muridnya bahkan oleh lawannya sekalipun[7].

Berbeda dengan ulama yang lainnya, khususnya mereka yang semasa hidupnya larut dalam ilmu kalam dan filsafat hingga memiliki berbagai tingkatan semasa hidupnya bahkan setiap tingkatan memiliki metode dan cara yang berbeda; Ibnu Taimiyah sepanjang hidupnya tidak pernah berubah. Beliau tetap di atas satu manhaj, meskipun pernah ruju’ dari beberapa permasalahan karena pertamanya taklid lalu setelah pengetahuannya sempurna merubah pendapatnya[8].

Allah  telah mengumpukan pada diri beliau ilmu dan amal, keberanian dan zuhud, wara’ dan kewibawaan, amat berpegang teguh dengan atsar, kesabaran dan kelembutan serta segala sifat yang baik dari akhlak.

Jihad di Masa Hidup dan wafatnya:
Ibnu Taimiyah bukanlah tipe orang alim yang duduk di rumahnya, mengkhususkan diri dengan kegiatan berfatwa, mengajar dan menulis/mengarang. Namun beliau sosok yang mengaitkan antara ilmu dengan amal. Hal ini yang menjadikan beliau merasa punya tanggung jawab untuk menegakkan kebenaran dan melenyapkan kebathilan termasuk berjihad.

Pada masa beliau, perkembangan politik dan kemasyarakatan berkecamuk, pasukan Tartar (Mongol) dan salib (Inggris) mengepung negara-negara Islam, berbuat kerusakan di muka bumi serta membuat orang-orang resah dan ketakutan.

Berbagai bid’ah dan kesesatan terkumpul di masyarakat, Ibnu Taimiyah memerangi hal itu semua. Beliau mengangkat pedang memerangi Tartar hingga terlihat paling berani di antara manusia; paling kuat hatinya dan paling kokoh dalam menghadapi kegelisahan/ kekacauan. Beliau menunggang kuda mengelilingi musuh seraya bertakbir dengan takbir yang membuat musuh lebih gentar daripada pedang yang terhunus hingga berdampak besar bagi kekuatan kaum muslimin. Memberi motifasi kepada mereka dan memberi kabar gembira serta menjanjikan pertolongan Allah.

Di sisi yang lain beliau bersungguh-sungguh memerangi pelaku bid’ah dari berbagai lapisan seperti mereka yang telah sampai pada batas kufur, kaum filosof, kaum rafidhah, sufi, Ismailiyyah, Nashiriyyah dan pelaku bid’ah yang keji di sekitar kuburan sebagaimana beliau membantah kaum jahmiyyah, muktazilah, al-khawarij, ahli kalam dan Asy-‘ariyyah hingga Allah أmenampakkan kebenaran melalui perantaraannya.

Bersamaan dengan itu pula telah nampak sekelompok fuqaha’ dan sufi yang menyerangnya, menuduh beliau karena ijtihadnya lalu menampakkan perbedaan hal itu dengan pendapat mereka yang ditopang oleh pihak yang memiliki kedudukan dan kekuasaan. Namun Ibnu Taimiyah tetap membantah mereka berdasarkan dalil dan bukti, menyingkap syubhat mereka yang bathil hingga beliau dikenal memiliki sikap yang tegas berkenaan dengan mereka.

Hingga sekarang bantahan-bantahan beliau menjadi senjata bagi para da’i yang menghendaki perbaikan dalam menghadapi musuh kebenaran dan pelaku kebathilan karena ditopang dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, kemudian petunjuk al-salaf al-shalih serta kuatnya pengambilan dalil syar’i (istinbaath) beserta ‘aqli yang menandakan luasnya ilmu yang dikaruniakan Allah kepadanya. Hal ini tidak berlebihan kiranya mengingat mereka adalah perpanjangan dari kelompok sempalan yang ada di masa Ibn Taimiyah.

Beliau mengalami cobaan karena sikapnya yang demikian. Seperti terusir dari negrinya, beberapa kali masuk penjara namun beliau sabar dan mengharap pahala. Terakhir beliau di penjara di qal’ah Damaskus karena fatwanya mengenai bepergian untuk ziarah kubur, beliau sakit beberapa hari karena tekanan setelah mengeluarkan kitab-kitab dan lembarannya hingga akhirnya wafat di penjara pada malam senin 20 dzulqa’dah 728 H. Setelah 5 bulan sebelumnya beliau mengosongkan diri untuk ibadah dan membaca Al- Qur’an. Kejadian ini disaksikan oleh salah seorang muridnya Ibnul Qayyim, ketika beliau sedang membaca Al-Qur an surah Al-Qamar yang berbunyi “Innal Muttaqina fi jannatin wanaharin”[9]

Demikianlah selama 67 tahun masa hidupnya beliau isi dengan ketekunan dan perjuangan. Sebagaimana pepatah mengatakan: “Kematian orang yang shaleh merupakan peristirahatan baginya, sedangkan kematian orang yang thaleh (lawan dari shaleh) merupakan peristirahatan bagi orang-orang dari gangguannya”.

Pemandangan saat pemakaman beliau demikian hebatnya, orang-orang saling berdesakan di sekitar jenazahnya, suara tangisan orang-orang meninggi disertai doa dan pujian. “Pada waktu itu tiada orang yang mendengar kematiannya di Damaskus melainkan sengaja mengosongkan diri datang untuk menshalati jenazahnya. Pasar ditutup, kehidupan seolah-olah berhenti. Para penguasa, pembesar, ulama’ dan fuqaha’, orang-orang Turki dan tentara, laki-laki dan wanita serta anak-anak bahkan orang khusus atau awam”[10]. Mereka yang menghadiri peristiwa itu lebih dari 100.000 orang dari kalangan pria dan 15.000 dari kalangan wanita. Sumber yang lain menyatakan bahwa orang-orang yang menghadiri jenazahnya tidak dapat digambarkan. Imam Ahmad ibn Hanbal pernah berkata: “Katakanlah kepada para pelaku bid’ah: Sebagai bukti kebenaran antara kita dengan mereka adalah pada hari kematian”[11]. Sejarah telah mencatat tidak ada orang-orang yang berkumpul pada hari kematian yang lebih banyak dari kedua imam ini. Semoga Allah melimpahkan pada keduanya pahala yang berlimpah dan menjadikan beliau berdua mendampingi para Nabi dan orang-orang yang mati syahid, serta orang-orang yang jujur dan shalih.

Kepribadiannya:
Selain dikenal dengan keilmuannya dalam bidang agama, Ibn Taimiyah dikenal memiliki kepribadian yang mulya. Beliau lebih mendahulukan orang-orang yang butuh daripada dirinya sendiri dalam hal makanan, pakaian atau yang lain. Banyak beribadah, berdzikir, membaca Al-Qur’an bersikap wara’ dan zuhud hingga tidak memiliki perhiasan dunia selain yang berupa kebutuhan primer.

Beliau merupakan sosok yang tawadhu’ dalam penampilannya, pakaiannya dan interaksinya dengan orang lain. Beliau tidak mengenakan pakaian yang mewah, tidak pula yang jelek/kumuh. Tidak dibuat-buat dalam tingkah lakunya dengan orang di hadapannya. Beliau dikenal berwibawa, memiliki prinsip yang kuat dalam berpegang teguh dengan kebenaran baik di kalangan pemerintah, ulama maupun masyarakat. Setiap orang yang melihatnya menyukainya, merasa sungkan dan hormat terhadapnya. Terkecuali orang-orang yang dengki dari kalangan pengikut hawa nafsu.

Beliau dikenal sebagai seorang yang penyabar, tahan banting di jalan Allah, memiliki firasat yang kuat, doa yang cepat terkabul dan karomah yang diakui. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat-Nya yang Maha luas dan menempatkan beliau di surga-Nya yang tinggi[12].

Peninggalannya:
Di antara penghormatan Allah terhadap syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah adalah berlangsungnya kebaikan selama hidup dan matinya. Semasa hidup beliau dikaruniai nikmatnya iman yang tak tergoyahkan oleh cobaan yang menerpa secara bertubi-tubi. Setelah wafatnya amal beliau tidak terputus karena begitu banyaknya peninggalan berupa karya tulis dan literatur berharga di berbagai cabang ilmu yang hingga saat ini kaum muslimin mengambil faedah darinya. Mereka mendapatkan apa yang tidak didapati di selainnya berupa luasnya ilmu dan agungnya faedah.

Karangannya mencapai kurang lebih 300 jilid, diantaranya ada yang ditulis saat beliau di Mesir, ada yang ditulis saat di Damaskus, di dalam penjara. Beliau menulis dari hafalannya, Allah telah mengaruniakan padanya kecepatan dalam menulis dan keberkahan waktu.

Murid beliau yang sangat setia Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memiliki kitab khusus yang membahas tentang tulisan-tulisan gurunya, yang paling menonjol di antara karangannya adalah:

1. Minhaaj al-Sunnah al-Nabawiyyah 2. Al-Aqidah Al-Hamawiyyah 3. Naqdhu Asaas Al-Tadliis 4. Al-Qaa’idah Al-Marakisyiyyah 5. Dar u Ta’aarudh al-‘Aql wa al-Naql 6. Al-Jawaab Al-Shahiih Liman Baddala Diin Al-Masiih 7. Bayyan Talbiis Al-Jahmiyyah fi Ta’siis Bida’ihim Al-Kalaamiyyah sebanyak 6 jilid yang tercetak 2 jilid[13]. 8. Al-Risaalah Al-Tadammuriyyah 9. Syarh al-Ashfahaaniyyah 10. Al-MUnaadharah haula al-Washithiyyah 11. Al-Risaalah al-Madaaniyyah fi Al-Haqiiqah wa al-Majaasfi Al-Shifaat 12. Al-Tis’iiniyyah 13. Al-Nubuwwaat 14. Al-Iman 15. Syarh Awwal al-Mahshal li Al-Raazi 16. Masaa il min Al-Abrba’iin li Al-Raazi 17. Majmuu’ Fataawa Ibn Taimiyah, kumpulan tulisan-tulisan beliau oleh Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Qaasim sebanyak 37 jilid dll.

Di antara peninggalan beliau pula adalah banyaknya murid sebagai wujud amalnya dalam berdakwah menyeru manusia kepada Allah berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Murid-murid beliau yang terkenal adalah: 1. Ibn Al-Qayyim (w. 751 H.) 2. Al-Dzahabi (w. 748 H.) 3. Al-Muziy (w. 742 H.) 4. Ibnu Katsir (w. 774 H.) 5. Ibn Abd Al-Hadi (w.774 H.) 6. Al-Bazzar (w. 749 H.) 7. Ibn Qadhi al-Jabal (w. 771 H.) 8. Ibn Fadhlillah al-Umari (w. 749 H.) 9. Muhammad al-Tanukhiy (w. 724 H.) 10. Yusuf al-Butiy (w. 726 H.) 11. Ibn Syaikh al-Hizaamain (w.711 H.) 12. Abu al-Abbas al-Zar’iy (w. 761 H.) 13. Syams al-Diin al-Ashbahaani (w. 749 H.) 14. Muhammad al-Dibahi (w. 711 H.) 15. Muhammad al-Haraani (w.718 H.) 16. Ibn Abi al-Najiih (w. 723 H.) 17. Zainuddin ibn Sa’dullah (w. 749 H.) 18. Muhammad al-Baalis (w. 718 H.) 19. Al-Sarmariy (w. 776 H.) 21. Ya’qubal-Ja’buriy (w. 726) 22. Ali al-Hilali (w.727 H.) 23. Muhammad al-‘Awwam (w.725 H.) 24. Ibrahim al-Ba’labakki (w. 725 H.) 25. Abdullah al-Jazriy (w. 725 H.) 26. Ummu Zainab Fathimah binti ‘Abbas (w. 714 H.)

Pujian para Ulama Terhadapnya:
Penulis menghitung ada 22 sumber kitab sejarah ternama yang memuat otobiografi Ibnu Taimiyah, selain buku-buku yang terbit belakangan. Tentunya hal ini menunjukkan kedudukan beliau yang amat tinggi di tengah umat Islam pada zamannya hingga sekarang dan sampai Allah menghancurkan bumi ini dan mengembalikan semua perkara kepada-Nya.

Hal ini ditambah dengan kitab maupun buku yang ditulis pada dekade terakhir yang membahas topik ataupun mengutip fatwa beliau.

Tulisan di atas kiranya sudah mewakili hal ini dan penulis tidak perlu lagi berpanjang lebar dalam masalah ini karena yang terkenal itu tidak butuh untuk diperkenalkan!

Ibnu Taimiyah di Mata Musuhnya:
Ibarat pohon yang tinggi maka angin yang menerpanya juga semakin kencang dan kuat. Mungkin inilah kalimat yang cocok bagi sosok Ibnu Taimiyah. Kalaupun ada segelintir manusia yang mencela beliau namun perkataannya tidak terhitung/tidak dianggap[14] karena menyelisihi perkataan mayoritas ummat.

Para musuh di sini maksudnya mereka yang menyelisihi madzhab salaf dari golongan Asy’ariyyah, kaum falsafah, tasawwuf, bathiniyah, rafidhah (syi’ah) dan yang lainnya. Ibnu Taimiyah berpegang teguh pada pernyataannya: kaum salaf a’lam (lebih mengetahui) dan ahkam (lebih berhak memutuskan hukum).

(“Kesempurnaan” performance seperti ini tak heran mengundang rasa iri di benak sebagian orang. Muncullah pena dan mulut-mulut usil yang berusaha mendeskriditkan Ibnu Taimiyah dengan menuduhnya sebagai tokoh yang menentang Al-Qur’an dan Sunnah. Aneh memang. Tampaknya sekelompok orang yang mendeskriditkan Ibnu Taimiyah tersebut belum tuntas membaca karya-karyanya yang berjumlah lebih dari lima ratus judul. Atau kemungkinan orang-orang tersebut telah dibayar oleh lawan-lawan Islam untuk memfitnah Islam dan tokoh-tokohnya)[15].

Beliau dalam membantah mereka menyusun dua metode: 1. Menjelaskan keadaan kaum tersebut dan sebab keberadaannya guna membangun sebuah hukum tentangnya 2. Membantah mereka[16].

Penutup:
Akhirnya segala pujian hanya milik Allah semata, kita tidak bisa menghitung pujian tersebut karena hanya Dialah yang dapat memuji Diri-Nya sendiri. Bagaimana pun manusia itu dipuji atau dielu-elukan oleh banyak orang, namun ada saja yang membencinya baik karena hasad dengan kenikmatan atau kemulyaan yang dirasakan oleh orang tersebut maupun karena dirinya rendah dan tidak mampu menyainginya.

Gelar syaikh al-Islam memang layak disandang oleh Abu al-‘Abbas Ahmad ibn Taimiyah dikarenakan jarang sekali orang yang sepertinya dalam kehidupan yang singkat di dunia ini. Beliau mengumpulkan antara ilmu dan amal, ibadah dan jihad serta waktu yang berkah hingga tidak sempat menikah karena keadaan yang tidak memungkinkannya.

Ibnu Taymiyyah berpendapat bahwa tiga generasi awal Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW dan Sahabat Nabi, kemudian Tabi’in yaitu generasi yang mengenal langsung para Sahabat Nabi, dan Tabi’ut tabi’in yaitu generasi yang mengenal langsung para Tabi’in, adalah contoh yang terbaik untuk kehidupan Islam.

Demikianlah Ibnu Taimiyah sebagai tokoh yang komplit, dalam arti kata tidak hanya sebagai salah seorang ulama akan tetapi juga sebagai pejuang, contoh dalam akhlak dan kepribadiannya serta yang lainnya.

Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya hingga ia tidak mengangkat diri di atas kedudukan yang semestinya.

[1] Al-Furqaan… tahqiq DR. Abd Al-Rahman Al-Yahya hlm. 29
[2] Iqtidhaa’ al-Shiraath al-Mustaqiim….tahqiq DR. Nashir al-‘Aql hlm 11
[3] Mauqif Ibn Taimiyah…DR. Abd al-Rahmaan al-Mahmud hlm.151.
[4] Ibnu Katsir menguatkan tanggal ini dalam kitabnya al-Bidaayah wa al-Nihaayah jilid 13 dan 14 hlm. 281.
[5] Mauqif Ibn Taimiyah…DR. Abd al-Rahmaan al-Mahmud hlm.153.
[6] Ibid hlm. 152.
[7] Iqtidhaa’ al-Shiraath al-Mustaqiim….tahqiq DR. Nashir al-‘Aql hlm. 12
[8] Mauqif Ibn Taimiyah…DR. Abd al-Rahmaan al-Mahmud hlm. 156-157
[9] Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
[10] Demikianlah al-Bazzar, salah seorang murid Ibnu Taimiyah mensifati hari itu. Ibid hlm. 213
[11] Iqtidhaa’ al-Shiraath al-Mustaqiim….tahqiq DR. Nashir al-‘Aql hlm. 16
[12] Ibid hlm. 14
[13] Dari buku yang penulis jadikan rujukan terbitan th. 1999 mengabarkan bahwa Universitas al-Imam Muhammad Ibn Su’ud di Riyadh akan mencetaknya disertai komentar dan penelitian.
[14] Perkataan al-Syaukani dalam majmu’ fatawa jilid 1 hlm. ب
[15] Risalah Ibnu Taimiyah tentang tafsir Al-Qur’an hlm. 12
[16] Mauqif Ibn Taimiyah…DR. Abd al-Rahmaan al-Mahmud hlm. 284.

Daftar Pustaka

Al-Mahmud, Abd Al-Rahman ibn Shalih ibn Shalih Mauqif ibn Taimiyah min Al-Asyaa’irah Cet. 1 Th. 1415 H.- 1995 M. Maktabah Al-Rusyd Riyadh Saudi Arabia.

Ibnu Taimiyah, Ahmad Ibn Abdil Halim Al-Furqaan Baina Auliyaa’ al-Rahmaan wa Auliyaa’ al-Syaithan Tahqiq DR. Abd Al-Rahmaan Al-Yahya Cet. 1 Th. 1420 H. – 1999 M. Daar Al-Fadhilah Riyadh Saudi Arabia dan Daar Ibn Hazm Beirut Libanon.

……………………, Iqtidhaa’ al-Shiroot al-Mustaqiim li Mukhaafati Ashhaab Al-Jahiim Cet. 6 Th. 1419 H. 1998 M. Daar Al-‘Aashimah Riyadh Saudi Arabia.

………………….., Tafsir Al-Qur’an Cet. 1 Desember 1996 Pustaka Mantiq Solo.

Ibn Katsir, Abu Al-Fidaa’ Ismail Al-Bidaayah wa Al-Nihaayah cet. 6 Th.1422 H.- 2001 M. Daar Al-Ma’rifah Beirut Libanon.

Qaasim, Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah Th. 1416 H. – 1995 M. Mujamma’ Al-Malik Fahad Al-Madinah Al-Munawwarah.

Internet, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

http://www.binamasyarakat.com/sejarah-dan-pemikiran-ibnu-taimiyah/

Iklan