GERAKAN PEMIKIRAN PEMBAHARUAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Senin, 08 Oktober 2012 | Label: Makalah by Jaka Billal

BAB I – PENDAHULUAN

Sekitar abad ke-18 M Islam mengalami stagnasi pemikiran. Pada Umumnya umat Islam disibukkan oleh asketisme[1] dimana pintu ijtihad telah tertutup semakin gencar. Di samping itu, tradisi yang bersifat bid’ah dan khurafat semakin merajalela. Hal tersebut mengakibatkan butanya umat terhadap ajaran-ajaran yang termakstub dalam al-Quran dan sunnah Nabi. Di negara-negara Islam terdapat banyak kuburan syekh tarekat bertebaran. Tiap kota, bahkan kampung-kampung mempunyai kuburan syekh atau wali untuk dimintai penyelesaian problema hidup mereka sehari-hari. Ada yang meminta supaya diberi anak, diberi jodoh, ada pula yang meminta supaya disembuhkan dari penyakitnya. Syekh atau wali yang telah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi di alam ini.

Kondisi semacam itu menimbulkan inspirasi dan motivasi bagi Muhammad bin abd Wahab untuk merespon dengan mencoba menggagas kembali semangat rujuk kepada ajaran Islam murni, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para pendukung Ahmad ibnu Hanbal dan Ibnu Taimiyah. Dalam melakukan dakwahnya, selain melalui lisan dan tulisan juga melalui sebuah gerakan keagamaan yang cukup terorganisir dan sukses, baik dalam aspek keagamaan maupun politik. Pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab memiliki nilai-nilai yang bermanfaat dalam dunia pendidikan karena pendidikan itu luas cakupannya, tidak terbatas hanya pengajaran di kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M).
Nama lengkapnya Abu Abdullah bin Abd. Al-Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Rasyid at-Tamimi. Dia dilahirkan pada tahun 1703 M/1115 H di Uyainah, Najd, Saudi Arabia. Dia dan pengikut-pengikutnya menamakan kelompoknya sebagai al-Muwahidun (pendukung tauhid). Sedangkan wahabi adalah julukan yang diberikan oleh musuh-musuhnya, yang juga dipakai oleh orang-orang Eropa untuk mempelesetkannya ke golongan wahhabi-khawarij Afrika Utara abad 2 H.

Sejak kecil Muhammad bin Abd. Wahab telah mendapatkan pendidikan keagamaan yang cukup kuat. Pelajaran yang pertama diperoleh dari ayahnya. Ia termasuk anak yang cerdas, hafal al-Quran dan banyak hadits Nabi sejak usia dibawah 10 tahun. Dengan ayahnya ia belajar fiqh mazhab Hambali, tafsir dan hadits. Ia juga banyak mempelajari kitab-kitab karangan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Setelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, ia kemudian pindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama. Banyak ilmu yang diperolehnya disini, terutama di bidang hadits dan musthalahnya, fiqih, usul fiqh, serta ilmu gramatika (ilmu qawaid). Selain belajar, ia juga berdakwah di kota ini. Akan tetapi dakwahnya disana menemui banyak rintangan dan halangan dari kalangan ulama setempat (kecuali Syeikh Muhammad al-Majmu’i yang mendukungnya). Akhirnya beliau meninggalkan Basrah dan mengembara ke beberapa negeri Islam untuk menyebarkan ilmu dan pengalamannya.

Setelah beberapa lama, beliau lalu kembali ke al-Ahsa menemui gurunya Syeikh Abdullah bin ‘Abd Latif al-Ahsai untuk mendalami beberapa bidang pengajian tertentu yang selama ini belum sempat dipelajarinya. Di sana beliau bermukim untuk beberapa waktu, dan kemudian ia kembali ke kampung asalnya Uyainah.

Pada tahun 1139H/1726M, bapanya berpindah dari ‘Uyainah ke Huraymilah dan dia ikut serta dengan bapanya dan belajar kepada bapanya. Tetapi beliau masih meneruskan tentangannya yang kuat terhadap amalan-amalan agama di Najd. Hal ini yang menyebabkan adanya pertentangan dan perselisihan antara beliau dengan bapanya yang Ahlussunnah wal jama’ah (serta penduduk-penduduk Najd). Keadaan tersebut terus berlanjut hingga ke tahun 1153H/1740M saat bapanya meninggal dunia.

Pada tahun 1738 ayahnya wafat, akhirnya ia kembali ke Uyainah. Selang setahun di sana ia menghabiskan waktunya untuk merenung dan baru setelah itu ia mengajukan doktrin ke masyarakat. Pada masa awal dakwahnya ia banyak mendapat tantangan. Pandangannya mendapat perhatian dari luar Uyainah sehingga ia pergi ke Dar’iyah dan mendapat pengikut hampir seluruh penduduk kota dan membangun masjid di sana.
Banyak tantangan yang dihadapi oleh Muhammad bin Abd. Wahab pada saat di Dar’iyah, namun hal tersebut dapat dihadapi berkat dukungan politik sepenuhnya dari Muhammad bin Saud. Pada tahun 1795, Universitas Islam Muhammad bin Saud berhasil mengumpulkan karya-karyanya dan membukukannya menjadi 12 jilid, yang meliputi bidang tauhid, fiqh, hadits dan tafsir.

Muhammad bin ‘Abdul Wahab telah menghabiskan waktunya selama 48 tahun lebih di Dar’iyah. Keseluruhan hidupnya diisi dengan kegiatan menulis, mengajar, berdakwah dan berjihad serta mengabdi sebagai menteri penerangan Kerajaan Saudi di Tanah Arab. Muhammad bin Abdul wahab berdakwah sampai usia 92 tahun, beliau wafat pada tanggal 29 Syawal 1206 H, bersamaan dengan tahun 1793 M, dalam usia 92 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Dar’iyah (Najd). Ajarannya diteruskan oleh murid-muridnya dan misi ini menjadi gerakan reformis yang sangat kuat selama abad ke-18 hingga abad ke-20 M.

2. Pemikiran Muhammad bin Abd. Wahab
Kerangka pemikiran Muhammad bin Abd. Wahab berangkat dari pemahaman ketauhidan kepada Allah. Ia membagi ketauhidan menjadi dua, yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Tauhid uluhiyah artinya tauhid untuk menetapkan bahwa sifat ketuhanan itu hanya milik Allah, dengan penyaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allalh, yang dilahirkan dengan mengucapkan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”. Selain itu hanya berbakti kepada-Nya saja. Dengan kata lain, kepercayaan bahwa Tuhan yang menciptakan alam ini adalah Allah dan hanya berbakti kepadanya. Sedangkan tauhid rububiyah artinya kepercayaan bahwa pencipta alam ini adalah Allah, tapi tidak dengan mengabdi kepada Allah.

Dalam pemikiran Muhammad bin Abd. Wahab, tauhid uluhiyah inilah yang dibawa oleh para nabi dan rasul, sementara tauhid rububiyah hanyalah bentuk penyelewengan pengabdian manusia kepada selain Allah. Dengan demikian ia berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan manusia dari kemusyrikan dan kegelapan adalah kembali kepada kitabullah. Menurutnya, tauhid telah dirasuki berbagai hal yang hampir menyamai syirik. Seperti mengunjungi makam para wali, mempersembahkan hadiah dan meyakini bahwa mereka mampu mendatangkan keuntungan atau kesusahan. Seakan-akan Allah sama dengan penguasa dunia yang dapat didekati melalui para tokoh mereka.

Menurut Muhammad bin Abd. Wahab, pemurnian akidah merupakan pondasi utama dalam pendidikan Islam. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan melalui teladan atau contoh merupakan metode pendidikan yang paling efektif. Hal ini sejalan dengan pemikiran Muhammad bin Abd. Wahab agar umat manusia kembali kepada Rasulullah dan para sahabatnya sebagai suri tauladan yang sangat baik bagi manusia.

Prinsip-prinsip dasar ajaran Muhammad bin Abd. Wahab didasarkan atas ajaran Ibn Taimiyah dan Mazhab Hambali, yaitu:
a) Ketuhanan Yang Esa yang mutlak
b) Kembali kepada ajaran Islam sejati, seperti termaktub dalam Al-Quran dan Hadits
c) Tidak dapat dipisahkannya kepercayaan dari tindakan, seperti shalat dan pemberian amal
d) Percaya bahwa al-Quran itu bukan ciptaan manusia
e) Kepercayaan nyata terhadap al-Quran dan hadits
f) Percaya akan takdir
g) Mengutuk segenap pandangan dan tindakan yang tidak benar

Menurutnya, manusia bebas berpikir dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh al-Quran dan Sunnah. Dia memerangi segala macam bentuk bid’ah dan mengarahkan agar orang beribadah dan berdoa hanya kepada Allah, bukan untuk para wali, syekh atau kuburan. Jika akidah mereka bersih seperti akidah para pandahulunya yang menjunjung tinggi kalimat “Laa Ilaaha Illallah” yang berarti tidak menganggap hal-hal lain sebagai Tuhan selain Allah, tidak takut mati, maka kaum muslimin pasti dapat meraih kembali kemuliaan dan kehormatan yang pernah diraih.

Pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abd. Wahab mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan pada periode modern,[2] di antaranya:
a) Hanya al-Quran dan al-hadits yang merupakan sumber asli dari ajaran-ajaran Islam, pendapat ulama tidak merupakan sumber
b) Taqlid kepada ulama tidak diperbolehkan
c) Pintu ijtihad tidak tertutup tetapi terbuka

3. Muhammad bin Abd. Wahab dan Pengembangan Intelektual dalam Pendidikan Islam
Pengembangan akal merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia yang dapat menunjang keberhasilan i’tikad karena dengan pengetahuan akan menjadikan “paham” atas sesuatu yang diyakini. Seorang muslim harus mempunyai bukti-bukti tentang Tuhannya untuk mendapatkan keyakinan yang kuat. Islam tidak membenarkan penganutnya muqallid, berpikir dengan akal orang lain yang diikutinya tanpa memakai akal sendiri. Dalam menemukan iman, seseorang harus berpikir sendiri, merenung dan memahami yang selanjutnya dapat memperkuat keyakinannya.

Oleh karena itu pendidikan Islam hendaknya menempatkan pembentukan akal sebagai prinsip utama pendidikan dengan didasarkan pada pemahaman al-Quran dan hadits yang menempatkan akal pada tempat yang mulia. pendidikan Islam berkewajiban untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan masyarakat Islam serta berusaha meletakan sistem sempurna berdasarkan sumber-sumber Islam yang murni serta berusaha membebaskan akal kaum muslimin dari belenggu khurafat (Kepercayaan karut yang diada-adakan berpandukan kepada perbuatan-perbuatan dan kejadian-kejadian alam yang berlaku)[3], jumud (beku; statis)[4], dan taklid (mengikuti perkataan orang yang perkataannya bukan hujjah). Sebagai media untuk membangun akal dan membangkitkan kembali tradisi keilmuan, umat Islam dapat menggunakan madrasah, universitas, masjid, halaqah, majalah, perpustakaan, dan lain-lain.

Dari usaha untuk mengembangkan akal tersebut diharapkan akan bermunculan kaum intelektual muslim, yakni mereka yang mempunyai akal, daya pikir, daya tanggap yang peka, daya banding yang tajam, daya analisis yang tepat. Karakteristik intelektual muslim yang menonjol dan sesuai dengan pemikiran Muhammad bin Abd. Wahab adalah bahwa ia menyaksikan, memikirkan, dan merenungkan fenomena yang ada disekelilingnya sebagai tanda kebesaran Ilahi. Disinilah fungsi tauhid yang tidak boleh dilepaskan dalam pengembangan akal. Dengan kata lain, kesimpulan dan rumusan-rumusan yang telah diperoleh terhadap alam, dijadikan dasar ilmu dan manfaat, dan itulah yang akan menjadi dasar keimanan kepada Allah SWT.

4. Bukan Gerakan Wahhabi
Muhammad bin Abdul Wahab berusaha membangkitkan kembali pergerakan perjuangan Islam. Para pendukung gerakan ini sering disebut Wahhabi oleh musuh-musuhnya. Gerakan kemudian disebut sebagai gerakan Wahabiyah. Istilah “Gerakan Wahabi” adalah istilah ejekan oleh lawan-lawannya. Istilah Wahhabi sering menimbulkan kontroversi karena asalnya dari kaum wahhabi-khawarij yang dipimpin oleh Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum dari Afrika Utara. Umat Islam umumnya suka keliru dengan ini.

Pada dasarnya ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ajaran Nabi Muhammad, bukan ajarannya sendiri. Karenanya, mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhiddun, yang berarti “satu Tuhan”. Mereka mendakwah mazhab menuruti pemikiran Ahmad bin Hanbal dan alirannya, al-Hanbaliyyah atau al-Hanabilah yang merupakan salah satu Mazhab dalam al-Sunnah wa al-Jama’ah. Muhammad Bin Abdul Wahab menamakan gerakannya, “Gerakan Muwahidin” yaitu suatu gerakan yang bertujuan untuk mensucikan dan meng-Esakan Allah dengan semurni-murninya yang mudah, gampang dipahami, dan diamalkan persis seperti Islam pada masa permulaan sejarahnya.

Hal-hal yang ditekankan oleh gerakan ini adalah:
1) Penyembahan kepada selain Allah adalah salah, dan siapa yang berbuat demikian ia dibunuh.
2) Orang yang mencari ampunan Allah dengan mengunjungi kuburan orang-orang sholeh, termasuk golongan musyrikin.
3) Termasuk perbuatan musyrik memberikan pengantar dalam sholat terhadap nama Nabi-nabi atau wali atau Malaikat ( seperti sayidina Muhammad).
4) Termasuk kufur memberikan suatu ilmu yang tidak didasarkan atas Alqur’an dan Sunnah, atau ilmu yang bersumber kepada akal pikiran semata-mata.
5) Termasuk kufur dan ilhad yang menginkari “Qadar” dalam semua perbuatan dan penafsiran Qur’an dengan jalan ta’wil.
6) Dilarang memakai buah tasbih dalam mengucapkan nama Tuhan dan do’a-do’a (wirid) cukup menghitung dengan jari.
7) Sumber syariat Islam dalam soal halal dan haram hanya Alqur’an semata-mata dan sumber lain sesudahnya ialah sunnah Rasul. Perkataan ulama mutakallimin dan fuqaha tentang haram-halal tidak menjadi pegangan, selama tidak didasarkan atas kedua sumber tersebut.
8) Pintu Ijtihad tetap terbuka dan siapapun juga boleh melakukan Ijtihad, asal sudah memenuhi syarat-syaratnya.

Sifat gerakan syaikh Muhammad yang keras, lugas, dan sederhana benar-benar tenaga yang sanggup mengoncangkan dan membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin yang sedang lelap tidur dalam kegelapan. Bersama dengan Ibnu Su’ud, pendiri Dinasti Su’udiyah ( Saudi Arabia) berjuang dengan sikap pantang menyerah. Ibnu Su’ud dalam menjalankan roda pemerintahannya dilhami oleh syaikh Muhammad.

5. Perjuangan memurnikan aqidah Islam
Melihat keadaan umat islam yang sudah melanggar akidah, Muhammad bin Abdul Wahab mulai merencanakan untuk menyusun sebuah barisan ahli tauhid (muwahhidin) yang diyakininya sebagai gerakan memurnikan dan mengembalikan akidah Islam. Ia memulai pergerakan di kampungnya sendiri, Uyainah. Ketika itu, Uyainah diperintah oleh seorang Amir (penguasa) bernama Usman bin Muammar. Amir Usman menyambut baik ide dan gagasan Syeikh Muhammad, bahkan beliau berjanji akan menolong dan mendukung perjuangan tersebut.

Suatu ketika, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab meminta izin pada Amir Uthman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Membuat bangunan di atas kubur menurut pendapatnya dapat menjurus kepada kemusyrikan. Amir menjawab “Silakan… tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi rancangan yang mulia ini.” Khawatir akan dihalang-halangi oleh penduduk yang tinggal berdekatan maqam tersebut, maka Amir menyediakan 600 orang tentara untuk bersama-sama Syeikh Muhammad merobohkan maqam yang dikeramatkan itu.

Sebenarnya apa yang mereka sebut sebagai makam Zaid bin al-Khattab ra. yang gugur sebagai syuhada’ Yamamah ketika menumpaskan gerakan Nabi Palsu (Musailamah al-Kazzab) di negeri Yamamah suatu waktu dulu, hanyalah berdasarkan prasangka belaka. Karena di sana terdapat puluhan syuhada’ (pahlawan) Yamamah yang dikebumikan tanpa jelas lagi pengenalan mereka. Bisa saja yang mereka anggap makam Zaid bin al-Khattab itu adalah makam orang lain. Tetapi oleh karena masyarakat setempat di situ telah terlanjur beranggapan bahwa itulah makam beliau, mereka pun mengkeramatkannya dan membina sebuah masjid di dekatnya. Makam itu kemudian dihancurkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab atas bantuan Amir Uyainah, Uthman bin Muammar.

Pergerakan Syeikh Muhammad tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian menghancurkan beberapa makam yang dipandangnya berbahaya bagi ketauhidan. Hal ini menurutnya adalah untuk mencegah agar makam tersebut tidak dijadikan objek peribadatan oleh masyarakat Islam setempat.

Berita tentang pergerakan ini akhirnya tersebar luas di kalangan masyarakat Uyainah maupun di luar Uyainah. Ketika pemerintah al-Ahsa’ menerima berita bahwa Muhammad bin’Abd al-Wahhab mendakwahkan pendapat itu, dan pemerintah ‘Uyainah pula menyokongnya, maka kemudian memberikan peringatan dan ancaman kepada pemerintah’Uyainah. Hal ini rupanya berhasil mengubah pikiran Amir Uyainah. Ia kemudian memanggil Syeikh Muhammad untuk membicarakan tentang cara tekanan yang diberikan oleh Amir al-Ahsa’. Amir Uyainah berada dalam posisi serba salah saat itu, di satu sisi dia ingin mendukung perjuangan syeikh tapi di sisi lain ia tak berdaya menghadapi tekanan Amir al-Ihsa. Akhirnya, setelah terjadi perdebatan antara syeikh dengan Amir Uyainah, di capailah suatu keputusan: Syeikh Muhammad harus meninggalkan daerah Uyainah dan mengungsi ke daerah lain.

Dalam bukunya yang berjudul Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab, Da’watuhu Wasiratuhu, Syeikh Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz, beliau berkata: “Demi menghindari pertumpahan darah, dan karena tidak ada lagi pilihan lain, di samping beberapa pertimbangan lainnya maka terpaksalah Syeikh meninggalkan negeri Uyainah menuju negeri Dariyah dengan berjalan kaki seorang diri tanpa ditemani oleh seorangpun. Ia meninggalkan negeri Uyainah pada waktu dini hari, dan sampai ke negeri Dariyah pada waktu malam hari.” (Ibnu Baz, Syeikh `Abdul `Aziz bin `Abdullah, m.s 22).

Tetapi ada juga tulisan lainnya yang mengatakan bahwa: Pada mulanya Syeikh Muhammad mendapat dukungan penuh dari pemerintah negeri Uyainah Amir Uthman bin Mu’ammar, namun setelah api pergerakan dinyalakan, pemerintah setempat mengundurkan diri dari percaturan pergerakan karena alasan politik (besar kemungkinan takut dipecat dari kedudukannya sebagai Amir Uyainah oleh pihak atasannya). Dengan demikian, tinggallah Syeikh Muhammad dengan beberapa orang sahabatnya yang setia untuk meneruskan dakwahnya. Dan beberapa hari kemudian, Syeikh Muhammad diusir keluar dari negeri itu oleh pemerintahnya.

6. Tantangan Dakwah dan Pemecahannya
Sebagaimana lazimnya seorang pemimpin besar dalam suatu gerakan perubahan, Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab pun tidak lepas dari sasaran permusuhan dari pihak-pihak tertentu, baik dari dalam maupun dari luar Islam, terutama setelah Syeikh menyebarkah dakwahnya dengan tegas melalui tulisan-tulisannya, berupa buku-buku maupun surat-surat yang tidak terkira banyaknya. Surat-surat itu dikirim ke segenap penjuru negeri Arab dan juga negeri-negeri Ajam (bukan Arab). Surat-suratnya itu dibalas oleh pihak yang menerimanya, sehingga menjadi beratus-ratus banyaknya. Mungkin kalau dibukukan niscaya akan menjadi puluhan jilid tebalnya.

Sebagian dari surat-surat ini sudah dihimpun, diedit serta diberi ta’liq dan sudah diterbitkan, sebagian lainnya sedang dalam proses penyusunan. Ini tidak termasuk buku-buku yang sangat berharga yang sempat ditulis sendiri oleh Syeikh di celah-celah kesibukannya yang luarbiasa itu. Adapun buku-buku yang sempat ditulisnya itu berupa buku-buku pegangan dan rujukan kurikulum yang dipakai di madrasah-madrasah ketika beliau memimpin gerakan tauhidnya.

Tentangan maupun permusuhan yang menghalangi dakwahnya, muncul dalam dua bentuk: Permusuhan atau tentangan atas nama ilmiyah dan agama, Atas nama politik yang berselubung agama. Bagi yang terakhir, mereka memperalatkan golongan ulama tertentu, demi mendukung kumpulan mereka untuk memusuhi dakwah Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab.

Mereka menuduh dan memfitnah Syeikh sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan, sebagai kaum Khawarij, sebagai orang yang ingkar terhadap ijma’ ulama dan pelbagai macam tuduhan buruk lainnya. Namun Syeikh menghadapi semuanya itu dengan semangat tinggi, dengan tenang, sabar dan beliau tetap melancarkan dakwah bil lisan dan bil hal, tanpa mempedulikan celaan orang yang mencelanya.

Pada hakikatnya ada tiga golongan musuh-musuh dakwah beliau:
1. Golongan ulama khurafat yang mana mereka melihat yang haq (benar) itu batil dan yang batil itu haq. Mereka menganggap bahwa mendirikan bangunan di atas kuburan lalu dijadikan sebagai masjid untuk bersembahyang dan berdoa di sana dan mempersekutukan Allah dengan penghuni kubur, meminta bantuan dan meminta syafaat padanya, semua itu adalah agama dan ibadah. Dan jika ada orang-orang yang melarang mereka dari perbuatan jahiliyah yang telah menjadi adat tradisi nenek moyangnya, mereka menganggap bahwa orang itu membenci auliya’ dan orang-orang soleh, yang berarti musuh mereka yang harus segera diperangi.

2. Golongan ulama taashub yang mana mereka tidak banyak tahu tentang hakikat Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab dan hakikat ajarannya. Mereka hanya taqlid belaka dan percaya saja terhadap berita-berita negatif mengenai Syeikh yang disampaikan oleh kumpulan pertama di atas sehingga mereka terjebak dalam perangkap Ashabiyah (kebanggaan dengan golongannya) yang sempit tanpa mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari belitan ketaashubannya. Lalu menganggap Syeikh dan para pengikutnya seperti yang diberitakan, yaitu anti Auliya’ dan memusuhi orang-orang shaleh serta mengingkari karamah mereka. Mereka mencaci-maki Syeikh habis-habisan dan beliau dituduh sebagai murtad.

3. Golongan yang takut kehilangan pangkat dan jabatan, pengaruh dan kedudukan. Maka golongan ini memusuhi beliau supaya dakwah Islamiyah yang dilancarkan oleh Syeikh yang berpandukan kepada aqidah Salafiyah murni gagal karena ditelan oleh suasana hingar-bingarnya penentang beliau.

Demikianlah tiga jenis musuh yang lahir di tengah-tengah nyalanya api gerakan yang digerakkan oleh Syeikh dari Najd ini yang mana akhirnya terjadilah perang perdebatan dan polemik yang berkepanjangan di antara Syeikh di satu pihak dan lawannya di pihak yang lain. Syeikh menulis surat-surat dakwahnya kepada mereka, dan mereka menjawabnya. Demikianlah seterusnya.

Perang pena yang terus menerus berlangsung itu, bukan hanya terjadi di masa hayat Syeikh sendiri, akan tetapi keterusan sampai kepada anak cucunya, dimana anak cucunya ini juga ditakdirkan Allah menjadi ulama. Merekalah yang meneruskan perjuangan al-maghfurlah Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab yang dibantu oleh para muridnya dan pendukung-pendukung ajarannya. Demikianlah perjuangan Syeikh yang berawal dengan lisan, lalu dengan pena dan seterusnya dengan senjata, telah didukung sepenuhnya oleh Amir Muhammad bin Saud, penguasa Dar’iyah.

Beliau pertama kali yang mengumandangkan jihadnya dengan pedang pada tahun 1158 H. Sebagaimana kita ketahui bahwa seorang da’i ilallah, apabila tidak didukung oleh kekuatan yang mantap, pasti dakwahnya akan surut, meskipun pada tahap pertama mengalami kemajuan. Namun pada akhirnya orang akan jemu dan secara berangsur-angsur dakwah itu akan ditinggalkan oleh para pendukungnya.

Oleh karena itu, maka kekuatan yang paling ampuh untuk mempertahankan dakwah dan pendukungnya, tidak lain harus didukung oleh senjata. Karena masyarakat yang dijadikan sebagai objek daripada dakwah kadangkala tidak mempan dengan lisan maupun tulisan, maka waktu itulah perlunya memainkan peranan senjata.
Alangkah benarnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ” Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami, dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Mizan/neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan pelbagai manfaat bagi umat manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan RasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.” (al-Hadid:25).

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para RasulNya dengan disertai bukti-bukti yang nyata untuk menumpaskan kebatilan dan menegakkan kebenaran. Di samping itu pula, mereka dibekali Kitab yang di dalamnya terdapat pelbagai macam hukum dan undang-undang, keterangan dan penjelasan. Juga Allah menciptakan neraca (mizan) keadilan, baik dan buruk serta haq dan batil, demi tegaknya kebenaran dan keadilan di tengah-tengah umat manusia.

Namun semua itu tidak mungkin berjalan dengan lancar dan stabil tanpa ditunjang oleh kekuatan besi (senjata) yang menurut keterangan al-Qur’an al-Hadid fihi basun syadid yaitu, besi baja yang mempunyai kekuatan dahsyat. yaitu berupa senjata tajam, senjata api, peluru, senapan, meriam, kapal perang, nuklir dan lain-lain lagi yang pembuatannya mesti menggunakan unsur besi.

Sungguh besi itu amat besar manfaatnya bagi kepentingan umat manusia yang mana al-Qur’an menyatakan dengan Wamanafiu linnasi yaitu dan banyak manfaatnya bagi umat manusia. Apatah lagi jika dipergunakan bagi kepentingan dakwah dan menegakkan keadilan dan kebenaran seperti yang telah dimanfaatkan oleh Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab semasa gerakan tauhidnya tiga abad yang lalu.

Orang yang mempunyai akal sehat dan fikiran bersih akan mudah menerima ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh Nabi, maupun oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang zalim dan suka melakukan kejahatan yang diperhambakan oleh hawa nafsunya, mereka tidak akan tunduk dan tidak akan mau menerimanya, melainkan jika mereka diiring dengan senjata.

Demikianlah Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab dalam dakwah dan jihadnya telah memanfaatkan lisan, pena serta pedangnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri, di waktu baginda mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam pada waktu dahulu. Yang demikian itu telah dilakukan terus menerus oleh Syeikh Muhammad selama lebih kurang 48 tahun tanpa berhenti, yaitu dari tahun 1158 Hinggalah akhir hayatnya pada tahun 1206 H.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi adalah seorang ahli teologi agama Islam dan seorang tokoh pemimpin gerakan salafiah yang pernah menjabat sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi. Muhammad bin Abdul Wahab berusaha membangkitkan kembali pergerakan perjuangan Islam, para pendukung pergerakan ini sering disebut Wahabbi, tetapi mereka menolak istilah ini karena pada dasarnya ajaran bin Wahhab adalah ajaran Nabi Muhammad, bukan ajarannya sendiri. Karenanya, mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhiddun, yang berarti”satu Tuhan”.

Dalam konsep pemahaman keagamaan Muhammad bin Abd. Wahab, persoalan tauhid merupakan ajaran yang paling mendasar dalam Islam. Oleh karena itu, fokus perhatian Muhammad bin Abd. Wahab adalah mencoba merespon persoalan-persoalan tersebut. Dengan perhatian terhadap aspek inilah, kemudian ia menulis kitab pertamanya yang berjudul “Kitab At-Tauhid”. Di dalamnya menyoroti tentang khufarat, bid’ah, tawasub, ziarah ke kubur para wali dan sebagainya.

Dari pemikiran tentang pemurnian tauhid, terkandung di dalamnya nilai-nilai pendidikan yang sangat penting, diantaranya:
1) Mengajar manusia untuk bebas berpikir, berijtihad, berkreasi dan tidak boleh taklid kepada para ulama atau syekh. Hal ini mendidik kita untuk senantiasa mengembangkan segala potensi yang ada, terutama potensi intelektual.
2) Mengajarkan manusia untuk mencontoh orang-orang saleh. Hal ini dikemukakan oleh Muhammad bin Abd. Wahab agar umat Islam mencontoh perilaku Rasulullah, sahabat, dan para tabi’in yang memiliki akidah yang murni.

Akal pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling tinggi yang diberikan hanya kepada manusia. Dengan akal dan pikiran yang dimilikinya itu pulalah manusia menempati tempat tertinggi di antara mahluk-mahluk lain, baik malaikat, jin, binatang dan sebagainya.

Pemikiran-pemikiran Muhammad Ibn Abd Al-Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan di abad ke-19, yaitu :

  1. Hanya al-Qur’an dan hadislah yang merupakan sumber asli dari ajaran-ajaran Islam
  2. Taklid kepada ulama tidak dibenarkan
  3. Pintu ijtihad terbuka

Ada 2 pengaruh gerakan ini terhadap dunia Islam yaitu pertama, ajaran-ajarannya terutama paham tauhid kembali mempengaruhi pemikiran dan usaha-usaha pembaharuan pada periode modern dari sejarah Islam, kedua, sikap teokratik-revolusioner yang ditunjukkan oleh gerakan Wahabiyah banyak mempengaruhi gerakan militansi yang ada pada abad ke-19. Contoh gerakan militansi tersebut adalah di India, gerakan yang di pimpin oleh Syariatullah dan Sayyid Ahmad melawan kesultanan Mughal yang tengah mengalami kemunduran, kelompok-kelompok Sikh, dan penjajah Inggris.

2. Saran
Islam memberikan penghargaan yang tinggi terhadap akal. Tidak sedikit ayat Al-Quran dan hadits yang menganjurkan dan mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya dan banyak berpikir untuk mengembangkan intelektualnya. Dengan penggunaan akal itulah, manusia dapat mengasah intelektualnya untuk kemudian menumbuhkan sifat kecendikiawanan dan kearifan, baik terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, maupun terhadap Allah sebagai pencipta. Itulah yang menjadi inti pemikiran Muhammad bin Abd. Wahab dalam memberantas kejumudan yang telah melanda umat Islam pada waktu itu.
Perkembangan Islam merupakan sejarah yang dapat dijadikan tauladan, dipelajari dengan mengambil hikmahnya dan menegakkan Syariah Islam jangan sampai terjadi kemunduran.

DAFTAR PUSTAKA
Mufakirin.2000.ENSIKLOPEDIA ISLAM.Bumi Aksara:Jakarta
Suwitno dan Fauzan, 2003. Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan. Bandung: Angkasa
http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdul_Wahhab
http://wajatimur11.blogspot.com/2009/08/khurafat-menurut-islampengaruh-dan.html
http://www.artikata.com/arti-332186-jumud.html
Suntiah, Ratu dan Maslani. Sejarah Peradaban Islam. 2010. Bandung : CV. Insan Mandiri
Parlindungan,Mangaradja Onggang , Tuanku Rao. Yogyakarta : LliS, 2007.

[1] Suwitno dan fauzan, Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 2003). Hlm. 267-268
[2] Lock cit. Suwito dan Fauzan. Hlm. 273.
[3] Diunduh dari: http://wajatimur11.blogspot.com/2009/08/khurafat-menurut-islampengaruh-dan.html.
[4] Diunduh dari http://www.artikata.com/arti-332186-jumud.html

http://jakabillal.blogspot.com/2012/10/gerakan-pemikiran-pembaharuan-muhammad.html

Iklan