Bermuamalah Dengan Non Muslim -1

Orang-orang non muslim di zaman Nabi dihormati dan dilindungi hak-hak asasi mereka, serta diperlakukan dengan baik, selama mereka tidak melakukan tindakan provokatif, persekongkolan jahat, atau bahkan memerangi kaum muslimin, serta selalu menjaga hubungan harmonis dalam tatanan masyarakat.

Islam adalah agama universal yang ajarannya ditujukan bagi umat manusia secara keseluruhan. Inti ajarannya, selain me­merintahkan penegakan keadilan dan eliminasi kezhaliman, juga meletak­kan pilar-pilar perdamaian, yang diiringi de­ngan himbauan kepada umat manu­sia, agar hidup dalam suasana persau­daraan dan toleransi, tanpa memandang perbedaan ras, suku, bangsa, dan aga­ma, karena manusia pada awalnya ber­asal dari asal yang sama, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang sama” (QS An-Nisa: 1).

Al-Qur’an adalah kitab suci yang men­jadi mukjizat terbesar bagi Rasulul­lah SAW. Di dalamnya terdapat penga­jaran yang tak sedikitpun hal terlewati. Ke­sempurnaannya telah menjadi ikrar Allah Ta’ala saat mewahyukan firman terakhir-Nya, sebagaimana yang ter­tuang dalam QS Al-Ma‘idah ayat 3, yang arti­nya, “Pada hari ini telah Aku sem­purna­­kan bagimu agamamu dan telah Aku penuhi nikmatKu atas kalian dan Aku relakan bagi kalian Islam sebagai agama kalian.”

Kesempurnaan paripurna dalam ta­taran thariqah manhajiyyah (metode teoritis) ini semakin nampak, tatkala sang pembawa risalah menempatkan sosoknya dalam kapasitas thariqah tathbiqiyyah-amaliyyah (metode prakti­kal), sang Al-Qur’an berjalan, yang men­jadi uswah hasanah bagi siapa saja yang mau mengambil ibrah kehidupan­nya dari berbagai sudut dan sisi, entah sebagai seorang individu, sebagai Mu­hammad an-sich, sebagai anak, ayah, suami, pemimpin agama, pemimpin po­litik, hingga komandan peperangan.

Maka tiada habis kata-kata untuk mengeksplorasi nilai diri beliau, dalam buku sirah hingga untaian kitab maulid, dalam seminar-seminar hingga acara tabligh, karena kesempurnaan Al-Qur’an, kesempurnaan ciptaan telah berada da­lam jiwa yang begitu diagungkan makh­luk yang mengisi langit dan bumi. Pada­nyalah, pada suatu masa, Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, berujar dengan sebuah kalimat singkat, “Haddits ‘anil bahr wala haraj” (Bin­cang­kanlah tentang si lautan, tidak apa-apa). Ungkapan kata bahr, lautan, ditujukan­nya bagi Baginda Rasulullah SAW, se­bagai sebuah penyematan kemuliaan atas segala aspek kehidupan sang makh­luk pilihan, yang penuh keteladanan, akh­laqnya Al-Qur’an, dan kalam-kalam­nya laksana lautan maha luas yang tak bertepian. Sungguh sangatlah elok ung­kapan abuya itu.

Pembenci Selalu Ada

Salah satu aspek terpenting dari sisi ke­hidupan Rasulullah SAW ialah, bagai­mana sikap beliau berinteraksi dengan individu maupun kelompok non muslim. Tidak jarang memang, kebaikan-kebaik­an yang disodorkan beliau kepada me­reka, berubah menjadi petaka sejarah. Para penulis muslim tentunya bicara se­obyektif mungkin menyebutkan sekian pe­taka, bukan atas dorongan subyekti­vitas, apalagi tendensi permusuhan yang sengaja diacung-acungkan tanpa rasa tanggung jawab ilmiah di hadapan umat ini. sehingga di benak kita tumbuh sebuah tanda tanya, “Kenapa mereka membenci dan memusuhi Nabi SAW, padahal beliau orang yang paling luhur akhlaqnya, tulus pemberiannya, dan ke­baikan-kebaikan mengalir dari tangan, kaki, dan mulut beliau?

Syaikh D.R. Raghib As-Sirjani dalam bukunya Fann at-Ta’amul an-Nabawi ma’a Ghayr al-Muslimin, berkata, “Se­sung­guhnya kebencian dan permusuhan terhadap diri Nabi Muhammad SAW didasari oleh sesuatu yang tidak menda­sar sama sekali. Mereka (pembenci) ini berkarakter di antara orang yang memiliki sifat iri, dan orang yang tak mengerti apa-apa. Terlalu banyak sebab pada diri me­reka sendiri; pencinta dunia, orang yang terpengaruh keuntungan materi, hingga menyifati diri mereka dengan sifat-sifat iblis, iri hati yang luar biasa, sehingga ke­benaran tertutup oleh nafsu syahwat se­mata.”

Masih menurutnya, di zaman setiap para Nabi selalu ada aktor antagonis. Lihatlah Fir’aun, Raja Namrudz, Haman, Qarun, hingga tipe-tipe manusia seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, Huyay bin Akhthab, dan Ka’ab bin Al-Asyraf. Tapi bukan itu yang terpenting dalam sisi kehidupan pergaulan Nabi SAW, karena yang penting adalah sisi dari diri beliau sendiri. Tak perlu sibuk dengan kotornya air yang keruh, ketika air yang bersih dapat memuaskan da­haga, demikian pitutur orang Melayu.

Semenjak sebelum masa kenabian, bahkan di usia belia, Nabi Muhammad SAW terbiasa hidup berdampingan di an­tara tetangga-tetangga yang non Mus­lim. Tercatat dalam sirah, beliau menja­jakan barang dagangan penduduk Mak­kah bersama pamandanya, Abu Thalib. Ketika itu, orang-orang kafir mulai ba­nyak mencurigai cucu Abdul Muth­thallib ini, bahkan ada yang memusuhi­nya. Namun justru malah banyak di an­tara mereka yang menitipkan harta me­reka di tangan Muhammad belia, seba­gai barang titipan untuk diperdagangkan ke Syam bersama barang dagangan Kha­dijah, yang saat itu belum diperistri­nya.

Keikutsertaannya dalam mendamai­kan pihak-pihak yang bertikai tentang Hajar Aswad, berhasil ditengahinya de­ngan cara yang memuaskan semua pi­hak. Bahkan beliau disematkan gelar Al-Amin, sekalipun tatkala wahyu pertama yang mengukuhkan identitas kenabian­nya dipertanyakan dengan kebencian oleh orang-orang yang menggelarinya Al-Amin itu. Bahkan setelah itu, beliau se­lalu dihujat dan diperangi lantaran ajakannya untuk mengikuti kebaikan. Oleh karena itulah, ketika beliau akhir­nya harus hijrah ke Madinah, di tangan beliau masih banyak harta titipan milik orang-orang kafir yang harus dikembali­kan terlebih dahulu. Dan itu ditunai­kan­nya.

Dalam perjalanan hijrah pun, Rasul­ullah SAW tetap bermualamah dengan orang kafir. Beliau dan Sayyidina Abu Bakar RA menyewa penunjuk jalan pro­fesional, Abdullah bin Uraiqith, yang saat itu bukan muslim, untuk mengantarkan mereka berdua hingga tiba ke arah Madinah.

Tulusnya Arti Pergaulan

Salah satu episode penting dalam ke­hidupan Nabi SAW ialah tatkala inter­aksi yang dibangunnya pasca hijrah ke Madinah.

Peta sosiologis penduduk Madinah pada masa Nabi SAW, tak ubahnya kondisi masyarakat masa kini yang hete­rogen. Dilihat dari aspek agama, menun­jukkan adanya golongan-golongan yang terdiri dari kaum muslimin, musyrikin (peng­anut paganisme), Yahudi, dan Nasrani.

Interaksi dengan Yahudi dan Nasrani sering terjadi sejak Nabi SAW tiba di Madinah. Mulanya mereka bersikap baik di awal kedatangan Nabi di Madinah. Beliau sering melakukan perbincangan dengan tokoh-tokoh mereka. Hal ini me­nunjukkan keakraban Nabi SAW dengan kaum Yahudi dan Nasrani di awal beliau berada di Madinah, sekalipun mereka tidak masuk Islam. Bahkan, Nabi SAW mempunyai sekretaris orang Yahudi. Ia diperlukan karena memiliki kemahiran ba­hasa Ibrani dan Suryani. Ia baru di­ganti Zaid bin Tsabit sesudah kaum Yahudi Bani Nadhir terusir dari Madinah akibat persekongkolan jahat. Selain itu Nabi juga pernah memiliki seorang duta yang ditugaskan ke Najasyi yang ber­nama Amr bin Umayyah Adh-Dhamri, seorang Yahudi yang kala itu belum ma­suk Islam.

Dengan kemajemukan penghuni Madinah itulah, Nabi Muhammad SAW berusaha membangun tatanan dan perjanjian hidup bersama secara damai dan mencakup semua golongan yang ada di Madinah, baik muslim maupun non Muslim, yang secara formal, de facto dan de jure, tertulis dalam Piagam Madi­nah yang terdiri dari 47 pasal.
Kisah Rasulullah Bermuamalah Dengan Non Muslim : Menanam Ketulusan, Berbuah Kemuliaan (Bagian 1)
Wednesday, 20 November 2013 | http://www.majalah-alkisah.com
situs: http://majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/3261-kisah-rasulullah-bermuamalah-dengan-non-muslim–menanam-ketulusan-berbuah-kemuliaan-bagian-1
(Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s