Bermuamalah Dengan Non Muslim -3

Orang-orang non muslim di zaman Nabi dihormati dan dilindungi hak-hak asasi mereka, serta diperlakukan dengan baik, selama mereka tidak melakukan tindakan provokatif, persekongkolan jahat, atau bahkan memerangi kaum muslimin, serta selalu menjaga hubungan harmonis dalam tatanan masyarakat.

Syahdan maka datanglah kepada Ra­sulullah, Suhail bin Amr, seorang de­le­gasi dari Quraisy, untuk berunding de­ngan beliau agar beliau untuk tahun ini pulang saja. Kemudian beliau baru boleh datang lagi tahun depan untuk berhaji dan boleh tinggal di Makkah selama tiga hari, sesudah kota itu dikosongkan oleh orang-orang Quraisy untuk beliau.

Kaum muslimin merasa enggan un­tuk pulang. Akan tetapi Rasulullah telah menerima itu. Sedang perundingan itu te­lah berjalan dan menghasilkan gencat­an senjata selama sepuluh tahun, di mana orang-orang Quraisy mempersya­ratkan, bahwa selama sepuluh tahun itu bila ada orang datang kepada Nabi Mu­hammad SAW tanpa seizin walinya, maka mereka harus dikembalikan ke­pada orang-orang Quraisy dan sekutu-sekutu mereka. Sedang orang-orang Quraisy dan sekutu-sekutu mereka tidak perlu mengembalikan orang-orang yang datang kepada mereka dari sahabat Nabi SAW.

Ketika Rasul menerima syarat ini, maka melompatlah Sayyidina Umar bin Al-Khaththab RA. Didatanginya Nabi seraya berkata: “Ya Rasul Allah, bukan­kah engkau utusan Allah?”

“Benar,” jawab Nabi

“Dan bukankah kita ini orang-orang Islam?” kata Umar pula.

“Benar,” jawab Nabi

“Dan bukankah mereka itu orang-orang musyrik?” kata Umar.

“Benar,” jawab Nabi

Maka Umar berkata: “Maka menga­pa kita memberi kehinaan terhadap agama kita?”

Jawab Nabi: “Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku takkan me­nyalahi perintah-Nya. Dan Dia (pun) tak­kan menyia-nyiakan aku.”

Para sahabat hampir merasa hancur akibat menerima kenyataan tentang per­kara perdamaian ini beserta syarat-sya­ratnya, dan mereka harus pulang tidak jadi menziarahi Ka’bah. Akan tetapi pen­didikan Nabi Muhammad SAW dan juga tekad yang kuat yang nampak pada diri beliau untuk senantiasa menuntut tegak­nya perdamaian, telah dapat mengem­bali­kan segala urusan pada tempat yang semestinya. Maka tatkala mereka se­mua telah duduk kembali untuk menulis perjanjian tersebut, sekali lagi tampaklah kesabaran Rasulullah. Beliau memang­gil Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, lalu ber­kata kepadanya, “Tulislah, Bismillahir Rahmaanir Rahiim.”

Tapi segera delegasi Quraisy, Suhail bin Amr, menukas, “Tunggu dulu. Saya ti­dak tahu apa Ar-Rahman Ar-Rahim. Tulislah saja: Bismi-Ka-llaahumma.”

Kemudian Nabi mengiyakannya dan berkata kepada Sayyidina Ali, “Tulislah: Inilah hasil perundingan antara Muham­mad Rasulullah dan Suhail bin Amr.”

Kembali Suhail menyela, “Tunggu dulu. Sekiranya saya telah bersaksi bah­wa engkau Rasul Allah, tentu kami tidak memerangimu. Jadi, tulislah namamu dan nama bapakmu saja.”

Beliau mengiyakannya, lalu berkata lagi kepada Sayyidina Ali, “Tulislah: Ini­lah hasil perundingan antara Muham­mad bin Abdullah dan Suhail bin Amr…”

Dari sini tampaklah kebijakan, keadil­an, kelapangan dada Rasulullah Mu­ham­mad SAW. Dan Allah SWT meng­ganjar kesabaran dan kelapangdadaan Nabi SAW dan para sahabat itu dalam ber­interaksi dengan para penguasa kafir Makkah, dengan sesuatu yang tak ber­langsung lama. Berikutnya, terjadi peris­tiwa, yakni takluknya Makkah tanpa da­rah, yang dikenal dengan fathu Makkah.

Kisah Orang Buta

Ada sebuah kisah lainnya. Ada se­orang Yahudi tua, sakit-sakitan, dan buta kedua matanya, yang mengemis di se­buah ujung pasar Madinah. Ia senan­tiasa menengadahkan kedua tangannya meminta belas kasih orang. Kita orang yang dipinta tak memberinya, ia akan mengumpat orang itu.

Rasulullah SAW selalu memberikan perhatian khusus kepada pengemis buta Yahudi itu. Acapkali beliau ke pasar, di­dekatinya si pengemis dan diberikannya makan. Bahkan makanan itu dilumatkan beliau, agar menjadi lembut dan mudah dimakan si pengemis. Bukan itu saja, bah­kan beliau menyuapinya dengan ke­dua tangan beliau yang suci itu.

Namun tak dinyana, pengemis itu se­lalu menyebut nama Rasulullah dengan penuh penghinaan dan sumpah sera­pah. Beliau mengerti keadaannya, se­dangkan dia tak menyadari siapa yang berlaku kasih buatnya di hadapannya itu. Rasulullah tidak membalas sedikitpun sikap pengemis Yahudi ini dengan, mi­salnya, menyebut siapa dirinya atau menghardiknya dengan ungkapan dasar tak tau dibelaskasihi. Malahan beliau semakin menunjukkan baginya kasih sa­yang, laksana seorang anak kepada orang­tuanya yang telah renta. Hari ber­ganti hari hingga tahun berganti tahun, kebiasaan ini terus dilakukan Rasulullah hingga wafatnya beliau.

Suatu ketika Sayyidina Abu Bakar RA yang tahu kebiasaan yang dilakukan Rasulullah ini datang menjenguk sang pengemis buta Yahudi. Ia menyuapinya sebagaimana Rasulullah menyuapinya. Saat memberi suapan itu, si pengemis buta berkata, “Kamu ini siapa? Kamu bukan orang yang biasa menyuapiku!”.

Mendengar hal itu Sayyidina Abu Bakar RA menangis sesenggukan. Lalu ia menjawab pertanyaan si pengemis, “Bagaimana engkau tahu? Bukankah ke­dua matamu buta?”.

Si pengemis menukas, “Orang yang biasanya datang menyuapiku itu, biasa­nya melumati dulu makanan itu dengan ha­lus, dan dia bersikap lembut kepada­ku… kamu ini siapa? Beda caramu de­ngan caranya menyuapiku!”

Kembali Abu Bakar semakin mena­ngis tersedu-sedu mendengar penuturan lugu si pengemis. Setelah usai semua­nya, Sayyidina Abu Bakar bercerita bah­wa orang yang selama ini mengasihi dan menyuapi si pengemis adalah Rasul­ul­lah SAW, orang yang selama dicaci maki oleh si pengemis. Kontan saja, si penge­mis Yahudi tua itu berbalik menangis ter­sedu-sedu. Ia terperanjat atas apa yang dilontarkannya selama ini terhadap Nabi Muhammad SAW. Menyadari akan ke­sa­lahannya, sang pengemis itu kemudi­an bertobat dan mengucap dua kalimat syahadat.

Begitulah Rasulullah SAW, yang pada dirinya ada sifat ksatria, tegas, dan penuh wibawa. Namun di sisi lain, ada juga sifat lembut dan penuh kasih sa­yang dalam interaksinya kepada siapa­pun juga. Beliau membawakan pelita, ke­tika orang lain berupaya mematikan­nya. Padahal pelita itulah menjadi pene­rang bagi orang itu dan orang lainnya. Allah SWT berfirman, yang artinya, “Me­reka berkehendak memadamkan ca­haya Allah dengan mulut-mulut mereka, padahal Allah enggan selain menyem­purnakan cahayaNya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah: 32).

Kisah Rasulullah Bermuamalah Dengan Non Muslim : Menanam Ketulusan, Berbuah Kemuliaan (Bagian 3)
Wednesday, 20 November 2013 | http://majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/3263-kisah-rasulullah-bermuamalah-dengan-non-muslim–menanam-ketulusan-berbuah-kemuliaan-bagian-3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s